INDOZONE.ID - Korea Utara pada Sabtu (23/8/2025) menuding militer Korea Selatan melepaskan tembakan peringatan di perbatasan Korea terhadap tentaranya.
Pyongyang menyebut bahwa tindakan tersebut sebagai provokasi serius yang bisa memicu eskalasi tak terkendali.
Menurut laporan media resmi Korut, insiden itu terjadi pada Selasa lalu, ketika prajurit Korea Utara tengah melakukan pekerjaan untuk menutup permanen garis demarkasi.
Letnan Jenderal Ko Jong Chol menyebut militer Korsel menembakkan lebih dari 10 peluru senapan mesin ke arah pasukan Korut.
Baca juga: Kim Jong Un Sebut Pasukan Korea Utara di Rusia sebagai Tentara Heroik
“Ini adalah awal dari situasi berbahaya yang dapat menyeret wilayah perbatasan selatan ke fase tak terkendali,” kata Ko melalui kantor berita KCNA.
Pihak militer Korea Selatan sendiri belum memberikan konfirmasi resmi atas klaim insiden tembakan perbatasan Korut-Korsel tersebut.
Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae Myung, sejak awal pemerintahannya berjanji untuk membangun “kepercayaan militer” dengan Korut.
Ia ingin menurunkan ketegangan yang terus meningkat. Namun, Pyongyang menegaskan tidak berminat memperbaiki hubungan dengan Seoul.
Sejak Oktober 2024, Korut mengumumkan akan menutup total perbatasan selatan. Mereka bahkan menghancurkan jalan raya dan jalur kereta yang selama ini menjadi simbol penghubung antar-Korea.
Ko Jong Chol juga memperingatkan, jika ada pihak yang menghalangi upaya penutupan perbatasan, maka itu akan dianggap sebagai provokasi militer yang disengaja.
“Kami tidak akan tinggal diam dan akan mengambil langkah balasan,” tegasnya.
Bukan sekali ini ketegangan terjadi. Pada April lalu, pasukan Korsel juga melepaskan tembakan peringatan ketika sekitar 10 tentara Korut melintasi zona demiliterisasi (DMZ).
Peristiwa itu menambah daftar panjang konflik di perbatasan Korut-Korsel yang kerap muncul sejak lama.
Baca juga: Korea Utara Bantah Pindahkan Pengeras Suara, Tegaskan Tak Mau Perbaiki Hubungan dengan Korsel
Selain itu, hubungan kedua negara makin renggang tahun lalu ketika Korut mengirim ribuan balon berisi sampah ke wilayah Korsel. Tindakan itu dilakukan sebagai balasan atas balon propaganda anti-Korut yang diluncurkan aktivis Korea Selatan.
Tak lama kemudian, Seoul menyalakan kembali pengeras suara di perbatasan dengan siaran lagu K-pop dan berita internasional, yang dijawab Pyongyang dengan suara-suara aneh dan mengganggu.
Sejak Lee Jae Myung terpilih pada Juni lalu, Seoul mengklaim kedua pihak telah menghentikan siaran propaganda. Bahkan, tentara Korsel sempat melihat tanda-tanda bahwa Korut mulai membongkar pengeras suara mereka.
Lee menegaskan komitmennya untuk membuka dialog tanpa syarat demi mengurangi ketegangan dan membangun kembali kepercayaan.
Namun, harapan itu dipatahkan oleh adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, yang menegaskan bahwa Pyongyang “tidak memiliki keinginan” memperbaiki hubungan dengan Seoul.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Yonhap News