Korea Utara Bantah Pindahkan Pengeras Suara, Tegaskan Tak Mau Perbaiki Hubungan dengan Korsel
INDOZONE.ID - Korea Utara secara tegas membantah laporan militer Korea Selatan yang menyebut Pyongyang mulai memindahkan pengeras suara propaganda di sepanjang zona demiliterisasi (DMZ).
Pernyataan Korut di perbatasan itu disampaikan langsung oleh Kim Yo Jong, adik pemimpin tertinggi Kim Jong Un, pada Kamis (14/8/2025).
Kim Yo Jong menegaskan bahwa Korea Utara bantah pindahkan pengeras suara di perbatasan, dan menutup pintu bagi kemungkinan perbaikan hubungan dengan Seoul.
Baca juga: Korea Utara Ancam Balas dengan Tegas jika Latihan Militer AS-Korsel Dianggap Provokasi
Ia bahkan mengatakan kebijakan resmi untuk Korea Utara tak mau perbaiki hubungan dengan Korsel akan diabadikan dalam konstitusi negara di masa depan.
“Kami tidak pernah menghapus pengeras suara di perbatasan dan tidak berniat untuk melakukannya,” tegas Kim dalam pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).
Ia menuduh Seoul sengaja membentuk opini publik bahwa hubungan antar-Korea membaik, padahal itu tidak benar.
Baca juga: Korea Utara Bangun Kapal Perusak Baru Seberat 5.000 Ton, Ini Alasannya
Sejak menjabat pada Juni, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengambil langkah berbeda dari pendahulunya dengan menawarkan dialog tanpa syarat kepada Korea Utara.
Namun, meski militer Korsel mengumumkan penghentian siaran propaganda dan mengklaim melihat tanda-tanda pengeras suara Korea Utara mulai dibongkar, Pyongyang membantah.
Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan perbatasan Korea Utara-Selatan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Pernyataan ini muncul hanya empat hari sebelum latihan militer gabungan AS-Korsel dimulai pada 18-28 Agustus. Latihan tersebut sering memicu kemarahan Pyongyang, yang menilainya sebagai latihan invasi.
“Apakah Korsel menghentikan siaran atau menunda latihannya, kami sama sekali tidak peduli,” kata Kim Yo Jong.
Pemerintah Korea Selatan tetap berkomitmen mencari jalan menuju normalisasi hubungan, meskipun mengakui hubungan antar-Korea berada dalam kebuntuan selama tiga tahun terakhir.
Pengeras suara di perbatasan menjadi bagian dari perang propaganda sejak Perang Korea. Tahun lalu, Korea Utara mengirim ribuan balon berisi sampah ke wilayah selatan sebagai balasan atas selebaran anti-Pyongyang yang diterbangkan aktivis Korsel.
Tak lama kemudian, Korsel kembali menyalakan siaran lagu K-pop dan berita internasional, sedangkan Korea Utara membalas dengan siaran suara misterius.
Pengamat menilai pernyataan Korut di perbatasan kali ini sebagai tanda bahwa Pyongyang tidak hanya menolak dialog, tetapi juga ingin menegaskan bahwa setiap upaya meredakan ketegangan akan diabaikan.
Bahkan, ada kekhawatiran Korea Utara akan meningkatkan demonstrasi militer, termasuk uji coba rudal balistik atau latihan serangan nuklir taktis.
Hingga kini, kedua Korea masih secara teknis berada dalam status perang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Yonhap News