Hari Kedua Ketegangan Thailand-Kamboja, PM Sementara Thailand Peringatkan Potensi Perang!
INDOZONE.ID - Ketegangan antara dua negara bertetangga, Thailand dan Kamboja, akibat sengketa perbatasan terus memanas memasuki hari kedua.
Hal ini disusul dengan aksi baku tembak yang menewaskan beberapa warga sipil. Perdana Menteri Sementara Thailand memperingatkan konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang terbuka.
Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung semenjak masa penjajahan Perancis di Kamboja tahun 1953.
Sengketa wilayah perbatasan yang membentang seluas 508 mil (817 km) ini belum juga tuntas dan beberapa kali memicu bentrok antara keduanya. Ketegangan ini juga diperkeruh oleh sentimen nasionalis.
Ketegangan memuncak dan berubah menjadi aksi serang menyerang melibatkan senjata berat, roket, dan jet tempur pada Kamis pagi (24/07/2025) di wilayah Candi Kuno Prasat Ta Moan Thom, Provinsi Surin, Thailand, yang merupakan wilayah sengketa.
Dalam penyerangan ini setidaknya 11 warga sipil menjadi korban jiwa dalam bentrokan mematikan itu. Dalam bentrokan puncak pada hari pertama kemarin, kedua pihak saling menyalahkan mengenai siapa yang meluncurkan serangan pertama.
Baca juga: AS dan Israel Tarik Tim dari Pembicaraan Gencatan Senjata Gaza, Ini Alasannya
Memasuki hari kedua bentrok pada Jumat (25/07/2025), serangan demi serangan terus dilancarkan oleh dua negara, melibatkan tembakan artileri berat dan roket.
Kementerian Kesehatan Thailand mengkonfirmasi jumlah korban tewas bertambah menjadi 15 orang pada Jumat pagi, 14 diantaranya adalah warga sipil, sedangkan 1 orang Kamboja juga menjadi korban jiwa dari insiden ini.
Kementerian Dalam Negeri Thailand juga mengkonfirmasi bahwa lebih dari 100.000 orang dari 4 provinsi yang berbatas langsung dengan daerah konflik terpaksa harus diungsikan ke 300 pusat penampungan yang telah disediakan.
Sementara menurut laporan media lokal, setidaknya 20.000 warga Kamboja harus dievakuasi dari provinsi perbatasan utara Preah Vihear.
Baca juga: Pemerintah AS Selidiki Keterlibatan Harvard dalam Program Pertukaran Mahasiswa Internasional
Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, memperingatkan bahwa bentrokan dengan Kamboja “dapat berpotensi memicu perang”, namun ia juga menambahkan bahwa “untuk saat ini masih terbatas pada bentrokan saja.”
Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand, menambahkan bahwa ia mengetahui “banyak negara menyatakan keprihatinan atas konflik Thailand-Kamboja, serta menawarkan bantuan sebagai mediator”.
“Saya berterima kasih kepada semuanya, tapi saya memohon untuk pemberian waktu. Karena mungkin kami harus membiarkan militer Thailand melakukan tugas mereka dan memberikan Hun Sen pelajaran karena kelicikannya,” tambah Thaksin.
Baca juga: Jerman Dikabarkan Berlakukan Wajib Militer Lagi untuk Pria Usia 18 Tahun
Menghadapi konflik yang semakin memanas antara kedua negara ini, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengumumkan secara resmi bahwa mereka alam menggelar sidang darurat pada hari ini untuk membahas sengketa perbatasan yang belum tuntas antara keduanya.
Sidang tersebut akan berlangsung di Markas Besar PBB di New York pada pukul 15.00 waktu setempat (19.00 GMT).
Sidang ini digelar sebagai respons permintaan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, untuk mengadakan “pertemuan mendesak” atas konflik ini.
Baca juga: Donald Trump Tegaskan Dukung Elon Musk dan Perusahaannya Tetap Berkembang di AS
Di Tengah keegangan yang semakin memanas akibat sengketa lama yang belum tuntas, korban jiwa terus bertambah dan ribuan warga sipil terpaksa mengungsi.
Situasi ini bukan hanya mengancam stabilitas kedua negara, tetapi juga kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
Dukungan komunitas internasional, seperti DK PBB dan ASEAN, diharapkan mampu mendorong dialog damai untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang terbuka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian, Al Jazeera