INDOZONE.ID - Jepang tengah bersiap untuk menjalankan proyek besar yang belum pernah dilakukan negara manapun sebelumnya.
Mulai Januari mendatang, Jepang akan menggelar uji coba tambang mineral langka terdalam dari dasar laut. Proyek ini disebut-sebut sebagai yang terdalam di dunia dan menjadi sorotan global.
Langkah ambisius ini merupakan bagian dari upaya Jepang untuk mengamankan pasokan mineral langka yang sangat dibutuhkan dalam berbagai industri, seperti kendaraan listrik, turbin angin, perangkat elektronik, hingga sistem pertahanan.
Baca juga: Jumlah Kelahiran di Jepang pada 2024 Turun di Bawah 700 Ribu untuk Pertama Kalinya
Seperti diketahui, Jepang baru-baru ini sepakat menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat, India, dan Australia untuk menjaga stabilitas pasokan mineral penting secara global.
Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), China saat ini memproduksi hampir dua pertiga mineral langka dunia dan menguasai 92 persen hasil olahannya.
Baca juga: China Lanjutkan Impor Makanan Laut Jepang yang Sempat Dihentikan
Dalam proyek penambangan bawah laut Jepang ini, kapal penelitian laut dalam bernama Chikyu akan melakukan uji coba pengambilan sedimen laut yang kaya akan kandungan mineral langka.
Uji coba ini akan dilakukan di kedalaman sekitar 5.500 meter, menjadikannya sebagai kedalaman tambang mineral langka Jepang yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Shoichi Ishii, Direktur Program Strategis Inovasi Pemerintah Jepang, mengatakan bahwa misi utama dari uji coba ini bukanlah seberapa banyak sedimen yang berhasil diambil, melainkan untuk menguji dan memastikan semua peralatan tambang laut dalam bisa berfungsi optimal.
"Ini adalah uji coba pertama di dunia untuk mengambil sedimen dari kedalaman 5.500 meter. Fokus kami adalah memastikan seluruh alat tambang berjalan dengan baik," ujar Ishii.
Lokasi uji coba berada di perairan ekonomi Jepang, tepatnya di sekitar Pulau Minami Torishima yang terletak di Samudra Pasifik. Pulau terpencil tersebut juga dikenal sebagai pangkalan militer Jepang di kawasan timur.
Mengutip laporan dari harian bisnis Nikkei, proyek ini menargetkan pengambilan sekitar 35 ton lumpur dari dasar laut selama tiga minggu.
Setiap ton lumpur diperkirakan mengandung sekitar 2 kilogram mineral langka, yang biasanya digunakan untuk membuat magnet dalam berbagai perangkat elektronik modern.
Berita tambang mineral langka Jepang terbaru ini tak hanya menarik perhatian dari sisi ekonomi, tetapi juga memunculkan pro dan kontra.
Di tengah ketegangan geopolitik, proyek ini dinilai sebagai upaya Jepang untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan mineralnya.
Namun, proyek ini juga mengundang kekhawatiran dari para pemerhati lingkungan. Mereka menilai aktivitas tambang laut dalam berpotensi merusak ekosistem laut yang rapuh.
Badan Otoritas Dasar Laut Internasional (ISA) bahkan dijadwalkan mengadakan pertemuan akhir bulan ini untuk membahas aturan global terkait penambangan laut dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washington Post