INDOZONE.ID - Kelompok militer Houthi Yaman, mengancam akan memperluas serangan jika konflik di Gaza tidak selesai. Kabar ini secara langsung diungkap oleh pemimpin Houthi pada Selasa (6/2/2024), kemarin melalui pidato yang disiarkan dalam sebuah video yang ditayangkan di masjid Al-Shaab, Yaman.
"Berusaha untuk meningkatkan lebih banyak lagi jika agresi brutal terhadap Gaza tidak berhenti, bersama dengan pengepungan rakyat Palestina dari seseorang yang menolak bantuan dan obat-obatan," kata Abdul Malik al-Houthi yang dikutip dari Reuters, Rabu (7/2/2024).
Houthi Yaman merupakan salah satu kelompok yang mendeklarasikan dirinya mendukung aksi Hamas di Palestina, dengan cara melakukan pemblokiran di jalur Laut Merah terhadap kapal-kapal milik Israel atau kapal yang berhubungan dengan negara tersebut.
Bulan lalu, kelompok tersebut menyebut juga menargetkan serangan terhadap Amerika dan juga Inggris.
Baca Juga: Inggris Janji Akan Akui Negara Palestina Secara Resmi Jika Israel-Hamas Lakukan Gencatan Senjata
Serangan yang dilayangkan oleh Houthi nyatanya membuat jalur pelayaran dunia terganggu. Pasalnya rute Laut Merah merupakan koridor tersibuk sebagai jalan satu-satunya menuju Terusan Suez yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Imbasnya pengepungan ini membuat para perusahaan pengiriman mau tak mau harus menghindari rute tersebut, dan memilih rute jauh untuk menghindari serangan Houthi. Resikonya kapal pengiriman harus melewati waktu yang panjang dan memakan biaya lebih besar.
Sementara itu, pada Selasa (6/2/2024) kemarin, kelompok Houthi dilaporkan telah menembakkan rudal ke kapal milik Inggris yakni Morning Tide dan Star Nasia milik Yunani. menurut juru bicara Houthi, Yahya Sarea, kapal tersebut mengalami kerusakan.
Baca Juga: Tanggapi Amerika, China Minta Iran Setop Aksi Militer Houthi di Laut Merah
Dalam laporan Reuters, Yahya mengatakan kelompoknya telah mengidentifikasi kapal Star Nasia merupakan milik Amerika yang membawa batu bara ke India. Hal ini diketahui melalui pelacak pengiriman laut.
Penulis: Gina Nurulfadilah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters