Ilustrasi bahan bakar di Amerika Serikat. (REUTERS/Beawiharta)
INDOZONE.ID - Harga rata-rata bensin di Amerika Serikat menembus angka 4 dolar per galon untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun.
Lonjakan ini dipicu oleh perang Iran yang terus mendongkrak harga energi global.
Menurut data organisasi otomotif AAA, rata-rata nasional untuk satu galon bensin reguler kini mencapai 4,02 dolar.
Angka ini naik lebih dari satu dolar dibandingkan saat perang dimulai pada 28 Februari lalu.
Baca juga: Donald Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Negosiasi Gagal
Harga diesel juga ikut meroket. Rata-rata nasional kini berada di 5,45 dolar per galon, naik sekitar 1,70 dolar dari sebelum perang.
Penutupan efektif Selat Hormuz selama sebulan terakhir menjadi penyebab utama. Jalur perairan vital ini biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
Kini, produksi dan transportasi energi di Timur Tengah melambat atau bahkan berhenti total.
Baca juga: Kasus Tambang Ilegal, Bareskrim Sita 6 Kg Emas hingga Rp1,4 M dari 3 Perusahaan di Jatim
Selain harga minyak mentah yang melonjak, AAA juga mencatat peningkatan permintaan bensin selama musim liburan musim semi (spring break) sebagai faktor tambahan yang mendorong kenaikan harga.
Harga 4,02 dolar per galon adalah yang tertinggi sejak Agustus 2022. Namun, rekor tertinggi masih dipegang oleh Juni 2022, ketika harga bensin mencapai 5,01 dolar dan diesel 5,81 dolar pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Kenaikan harga energi tidak hanya terjadi di AS. Di Inggris, harga bensin rata-rata naik 14 persen dan diesel 27 persen sejak perang Iran dimulai.
Sejumlah negara telah mengambil langkah darurat. Sri Lanka dan Bangladesh memberlakukan jatah bahan bakar. Slovenia menjadi negara Uni Eropa pertama yang melakukan hal yang sama.
Baca juga: Donald Trump Klaim AS Mulai Kendalikan Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC