INDOZONE.ID - Yaman kini berada dalam posisi yang sulit. Kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran saat ini belum terlibat dalam konflik terbuka dengan AS dan Israel.
Namun, kekhawatiran warga Yaman mulai memuncak. Mereka takut jika kelompok Houthi akhirnya ikut ambil bagian.
Dampak ekonomi dan kemanusiaan yang akan ditanggung rakyat Yaman bisa jauh lebih berat daripada serangan militer itu sendiri.
Baca juga: Filipina Dilanda Krisis BBM, Wacana Penundaan KTT ASEAN Menguat
Pemimpin Houthi, Abdel-Malik al-Houthi, sebelumnya mengatakan bahwa kelompoknya "tangan di pelatuk" dan siap bertindak pada waktu yang tepat.
Hingga saat ini, mereka belum terlibat dalam konflik yang dimulai hampir sebulan lalu antara AS-Israel melawan Iran.
Seorang pejabat militer Iran menyatakan bahwa setiap agresi AS terhadap fasilitas minyak Iran akan membuka jalan bagi Teheran untuk mengganggu stabilitas di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.
Selat ini berada di sebelah barat Yaman dan merupakan jalur vital bagi perdagangan global.
Baca juga: Kapal Malaysia Dapat Izin Lewati Selat Hormuz, Anwar Ibrahim Ucapkan Terima Kasih ke Iran
Analis memprediksi jika Houthi ikut terlibat, mereka akan fokus menyerang fasilitas energi dan pelabuhan di negara-negara Teluk serta mencegah kapal melewati Bab al-Mandeb.
Abdulsalam Mohammed, kepala Pusat Studi dan Riset Abaad Yaman, mengatakan bahwa langkah seperti itu akan memicu konflik internal Yaman kembali pecah.
Perang saudara yang sempat mereda sejak gencatan senjata 2022 bisa meletus lagi.
"Kesiapan militer pasukan pemerintah Yaman saat ini tampak lebih baik, terutama setelah mereka menstabilkan situasi di Yaman Selatan. Selain itu, mereka akan mendapat dukungan asing, terutama dari AS dan Arab Saudi," ujarnya.
Baca juga: Panic Buying Melanda Australia, PM Albanese Pastikan Pasokan BBM Aman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera, Al Jazeera