Ilustrasi krisis BBM di Filipina (freepik).
INDOZONE.ID - Filipina saat ini tengah bergulat dengan krisis bahan bakar akibat dampak perang Iran yang melonjakkan harga energi global.
Di tengah situasi ini, muncul wacana untuk menunda atau mengecilkan skala penyelenggaraan KTT ASEAN yang seharusnya digelar di Cebu pada Mei mendatang.
Sejumlah anggota parlemen mendesak Presiden Ferdinand Marcos Jr untuk mempertimbangkan penundaan atau pengecilan acara.
Mereka ingin anggaran yang dialokasikan untuk KTT dialihkan guna meringankan beban masyarakat akibat kenaikan harga energi.
Baca juga: Kapal Malaysia Dapat Izin Lewati Selat Hormuz, Anwar Ibrahim Ucapkan Terima Kasih ke Iran
Pada Desember lalu, Kongres Filipina menyetujui anggaran sebesar 17,5 miliar peso (sekitar 290 juta dolar AS) untuk menjadi tuan rumah KTT ASEAN dan pertemuan terkait lainnya sepanjang 2026. Filipina mengambil alih keketuaan dari Malaysia.
Sejak Januari, Manila telah menjadi tuan rumah sejumlah pertemuan tingkat menteri. KTT pemimpin ASEAN ke-48 dijadwalkan berlangsung di Cebu pada Mei, sementara KTT ke-49 akan digelar pada November.
Namun, usulan penundaan ini pertama kali dilontarkan oleh mantan Menteri Keuangan Gary Teves. Ia berargumen bahwa pemotongan belanja pemerintah diperlukan di tengah krisis energi yang melanda.
Baca juga: Panic Buying Melanda Australia, PM Albanese Pastikan Pasokan BBM Aman
Presiden Senat Vicente Sotto III mendukung usulan untuk mengkaji opsi penundaan. Ia mengatakan pada Senin (23/3/2026) bahwa situasi saat ini memang mendorong kemungkinan langkah tersebut.
"Waktu menuntut langkah seperti itu," ujar Sotto. Ia menambahkan bahwa Presiden Marcos dapat mempertimbangkan langkah tersebut.
Namun, para analis memperingatkan bahwa penundaan KTT ASEAN akan melemahkan posisi Filipina sebagai ketua ASEAN.
Keketuaan ini merupakan momentum penting bagi Manila untuk menunjukkan kepemimpinan di kawasan.
Baca juga: Australia Larang Warga Iran Berkunjung, Ini Alasannya
Krisis energi yang melanda Filipina merupakan bagian dari dampak global akibat konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia mengalami gangguan, memicu lonjakan harga di berbagai negara, termasuk Filipina.
Situasi Energi di Filipina
Krisis BBM yang terjadi diperparah dengan kebijakan harga yang terus melonjak. Masyarakat dan pelaku usaha merasakan tekanan dari kenaikan biaya transportasi dan operasional.
Pemerintah Filipina belum mengambil keputusan resmi terkait nasib KTT ASEAN. Namun, tekanan dari parlemen untuk mengutamakan kebutuhan rakyat di tengah krisis semakin kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: South China Morning Post