Ilustrasi perang Amerika Serikat dengan Iran. (Sumber: Freepik)
INDOZONE.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas tak hanya mengguncang geopolitik global, tetapi juga membuka fakta mencengangkan tentang mahalnya perang modern. Dalam waktu singkat, AS harus mengeluarkan dana miliaran dolar demi menjaga operasi militernya di kawasan Timur Tengah. Angka yang muncul bukan sekadar besar, melainkan fantastis dan terus membengkak.
Sejak serangan awal diluncurkan, biaya perang langsung melonjak tajam. Pengeluaran ini mencakup penggunaan amunisi canggih, mobilisasi pasukan, hingga operasional alat utama sistem persenjataan berteknologi tinggi. Bahkan, dalam hitungan hari, biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat setara dengan anggaran tahunan beberapa negara berkembang.
Di tengah eskalasi konflik, para analis memperingatkan bahwa angka tersebut masih jauh dari puncaknya. Jika perang berlanjut, konflik ini berpotensi menjadi salah satu yang paling mahal dalam sejarah modern.
Pada fase awal konflik, biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat langsung melonjak drastis. Dilansir melalui Reuters pada Rabu (18/03/2026), pemerintah AS memperkirakan telah menghabiskan sekitar 11,3 miliar dolar AS hanya dalam enam hari pertama perang.
Angka ini menunjukkan tingginya intensitas serangan yang dilakukan, termasuk penggunaan rudal presisi tinggi dan operasi militer berskala besar. Bahkan, dalam periode yang lebih singkat, biaya yang dikeluarkan juga tak kalah mencengangkan.
The Washington Post, yang dilansir melalui Reuters, melaporkan bahwa sekitar 5,6 miliar dolar AS dihabiskan hanya untuk amunisi dalam dua hari pertama konflik. Besarnya angka ini mencerminkan mahalnya teknologi militer modern yang digunakan dalam peperangan saat ini.
Besarnya anggaran perang yang dikeluarkan Amerika Serikat tidak lepas dari penggunaan teknologi militer canggih yang harganya sangat mahal.
Salah satu komponen terbesar berasal dari amunisi presisi tinggi seperti rudal Tomahawk dan JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile). Tomahawk dikenal sebagai rudal jelajah jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi, sementara JASSM digunakan untuk menyerang target strategis dari udara dengan risiko minimal bagi pilot.
Harga satu rudal bahkan bisa mencapai 1 hingga 2 juta dolar AS per unit. Dilansir melalui CSIS Missile Defense Project pada Rabu (18/03/2026), rudal-rudal ini menjadi andalan utama Amerika Serikat dalam serangan jarak jauh berpresisi tinggi.
Selain itu, biaya besar juga terserap untuk operasional kapal induk dan armada laut. Dalam konflik ini, Amerika Serikat mengerahkan carrier strike group sebagai pusat komando sekaligus basis serangan. Biaya operasional satu kelompok kapal induk dapat mencapai puluhan juta dolar per hari, mencakup bahan bakar, logistik, hingga sistem pertahanan kapal.
Pengeluaran juga meningkat signifikan dari penggunaan pesawat tempur seperti F-15, F-16, dan F/A-18 yang digunakan secara intensif dalam serangan udara. Setiap jam terbang jet tempur dapat menghabiskan biaya sekitar 20.000 hingga 35.000 dolar AS, belum termasuk amunisi seperti bom pintar atau guided bombs yang juga bernilai tinggi.
Di sisi pertahanan, Amerika Serikat juga mengoperasikan sistem pertahanan udara seperti Patriot Missile System dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) untuk mengantisipasi serangan balasan. Sistem ini dirancang untuk mencegat rudal musuh sebelum mencapai target. Namun, satu rudal interceptor saja bisa bernilai jutaan dolar.
Tak kalah penting, biaya besar juga dialokasikan untuk logistik dan mobilisasi pasukan. Pengiriman ribuan tentara, transportasi alat militer, hingga penyediaan kebutuhan dasar seperti makanan dan layanan medis memerlukan anggaran yang tidak sedikit.
Para analis memperkirakan, jika konflik berlangsung lebih lama, Amerika Serikat berpotensi menghabiskan hingga 50 miliar dolar AS atau bahkan lebih untuk melanjutkan operasi militernya.
Dalam skenario jangka panjang, total biaya perang bahkan bisa menembus ratusan miliar dolar, seperti yang pernah terjadi pada konflik besar sebelumnya. Hal ini berpotensi menambah tekanan pada anggaran negara serta memperbesar defisit fiskal AS.
Baca juga: Cathay Pacific Naikkan Biaya Bahan Bakar Penerbangan Hampir Dua Kali Lipat Akibat Perang Iran
Dampak perang ini tidak hanya dirasakan oleh Amerika Serikat. Ketegangan di kawasan strategis seperti Timur Tengah turut memicu kenaikan harga minyak global.
Konflik ini berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia dan mendorong harga minyak melonjak tajam. Dampaknya kemudian merembet ke berbagai sektor, mulai dari inflasi hingga ketidakstabilan ekonomi global.
Perang antara Amerika Serikat dan Iran membuktikan bahwa konflik modern bukan hanya soal kekuatan militer, tetapi juga soal kekuatan finansial. Dalam waktu singkat, puluhan miliar dolar telah terkuras untuk berbagai kebutuhan dari rudal canggih hingga operasional pasukan.
Jika konflik terus berlanjut, biaya yang harus ditanggung bukan hanya oleh Amerika Serikat, tetapi juga oleh dunia. Sebab, pada akhirnya, perang adalah keputusan mahal dengan konsekuensi global yang panjang dan kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters