INDOZONE.ID - Hujan deras yang mengguyur ibu kota Filipina sejak Senin malam (21/7/2025) menyebabkan banjir parah di Manila, melumpuhkan aktivitas warga dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi ke tempat aman.
Bencana ini juga mengakibatkan dua orang dilaporkan hilang, memicu kekhawatiran akan bertambahnya korban.
Akibat intensitas hujan yang tinggi, Sungai Marikina meluap dan membanjiri permukiman di sekitarnya. Pemerintah setempat melaporkan lebih dari 23.000 warga dievakuasi akibat banjir di Manila, khususnya di wilayah yang berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai.
Baca juga: Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr Minta Semua Menteri Mundur, Alasannya Demi Jaga Kekuasaan
Kepala tim penyelamat Marikina, Wilmer Tan, menyebut ketinggian air di sungai mencapai 18 meter, angka yang sangat mengkhawatirkan. Warga pun segera dipindahkan ke lokasi pengungsian seperti balai desa, sekolah, dan aula umum.
“Sebagian besar warga yang dievakuasi tinggal di daerah yang rawan, seperti pinggir anak sungai,” jelasnya.
Salah satu insiden yang mencemaskan terjadi di Caloocan. Seorang perempuan lansia dan sopirnya dilaporkan hilang akibat banjir di Manila setelah mobil mereka terseret arus saat menyeberangi jembatan.
Baca juga: Senat Filipina Gelar Sidang Pemakzulan Wapres Sara Duterte Awal Juni
Mobil tersebut ditemukan dalam kondisi jendela pecah, sehingga ada kemungkinan keduanya sempat keluar dan melarikan diri. Namun hingga kini, pencarian masih terus dilakukan oleh tim penyelamat.
“Operasi penyelamatan masih berlangsung. Kami berharap mereka berhasil menyelamatkan diri,” ujar John Paul Nietes dari pusat operasi darurat.
Selain Marikina, wilayah Quezon dan Caloocan juga terdampak banjir. Total, lebih dari 48.000 warga telah dievakuasi dari berbagai penjuru ibu kota. Jalan-jalan utama terendam banjir di Manila, membuat kendaraan sulit melintas dan warga tidak bisa beraktivitas seperti biasa.
Pemerintah pun menutup sekolah dan kantor pemerintahan untuk sementara waktu demi keselamatan. Banjir kali ini diperparah oleh hujan monsun yang masih berlangsung sejak Badai Tropis Wipha melintas dekat wilayah Filipina pada Jumat lalu.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Filipina (NDRRMC), total korban dari rangkaian badai dan banjir ini mencapai tiga orang meninggal dan tujuh orang hilang, khususnya di wilayah tengah dan selatan negara tersebut.
Filipina dikenal sebagai negara yang paling sering dilanda topan dan badai tropis. Setiap tahunnya, sekitar 20 badai melanda negeri ini, dan daerah termiskin biasanya menjadi yang paling rentan terhadap dampaknya. Kini, perubahan iklim turut memperburuk kondisi, membuat badai menjadi lebih ekstrem dan sulit diprediksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters