INDOZONE.ID - Donald Trump kembali mencuri perhatian lewat berita politik terbarunya. Kali ini, ia meraih kemenangan besar setelah Kongres resmi menyetujui RUU andalannya yang memuat pemangkasan pajak besar-besaran serta pengurangan belanja pemerintah.
Setelah RUU tersebut disahkan, mantan Presiden Joe Biden tak tinggal diam. Ia menyebut kebijakan itu "tidak hanya sembrono, tapi juga kejam".
Dalam suasana penuh euforia di Gedung Capitol, Ketua DPR AS Mike Johnson, yang berasal dari Partai Republik, dengan bangga menunjukkan hasil penghitungan akhir suara.
Baca juga: Israel Lenyapkan 56 Ribu Nyawa Warga Gaza, Trump Klaim Akan Ada Gencatan Senjata 60 Hari
Ia dikelilingi oleh para anggota Partai Republik yang merayakan keberhasilan tersebut. Johnson mengatakan, ini adalah kemenangan legislatif Trump yang sangat bersejarah.
RUU andalan Donald Trump lolos Kongres usai perdebatan panjang. Trump sendiri menyambut penuh suka cita dan mengklaim bahwa kebijakan ini akan mengangkat ekonomi Amerika Serikat bak roket yang melesat ke angkasa.
"Saya sebut ini sebagai RUU terbesar sepanjang sejarah. Paket kebijakan ini akan membawa ekonomi kita melesat," ucap Trump kepada wartawan saat hendak menghadiri kampanye di Iowa, bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan AS yang ke-250.
Baca juga: Israel dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Setelah 12 Hari Perang Menurut Trump
Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Suzanne Plunkett)
RUU yang kini menjadi sorotan utama ini memuat berbagai program prioritas Trump, mulai dari peningkatan anggaran militer, pendanaan untuk deportasi massal imigran ilegal, hingga perpanjangan program pemotongan pajak senilai US $4,5 triliun yang menjadi salah satu janji politik utamanya.
"Segalanya sempat berantakan di bawah rezim Biden-Harris. Lewat RUU ini, kami berusaha memperbaiki kerusakan itu," kata Mike Johnson. "Saya sangat bersyukur kita bisa menuntaskan misi ini."
Namun di balik euforia tersebut, muncul kekhawatiran besar terkait dampak RUU ini terhadap anggaran negara. Sejumlah analis memperkirakan, RUU ini akan menambah beban utang nasional hingga US $3,4 triliun dalam 10 tahun mendatang.
Tak hanya itu, program bantuan pangan untuk masyarakat berpenghasilan rendah juga dipangkas drastis. Bahkan, program asuransi kesehatan Medicaid yang telah berjalan sejak 1960-an juga mengalami pemotongan terbesar sepanjang sejarah.
Diperkirakan sekitar 17 juta warga akan kehilangan akses asuransi kesehatan, dan puluhan rumah sakit di wilayah pedesaan terancam tutup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: New York Post