INDOZONE.ID - Dalam peristiwa bencana besar baik karena alam maupun kecelakaan, sering kali identitas korban menjadi sulit dikenali secara fisik. Di sinilah peran Disaster Victim Identification (DVI) menjadi sangat krusial.
Lantas apa sih pengertian dan DVI dan bedanya ilmu forensik secara umum? Maka dari itu, INDOZONE akan mengulas tuntas apa itu DVI, bagaimana tim tersebut bekerja, dan apa yang membedakannya dengan ilmu forensik pada umumnya.
Baca juga: Tim DVI Polda Jatim Terima 55 Kantong Jenazah Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny
Apa Itu Disaster Victim Identification (DVI)?
Disaster Victim Identification (DVI) adalah prosedur standar internasional yang digunakan untuk mengidentifikasi korban meninggal dunia dalam sebuah bencana massal secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Prosedur ini merujuk pada standar Interpol untuk memastikan bahwa jenazah dikembalikan kepada keluarga yang tepat dengan tingkat kepastian yang sangat tinggi. DVI bukan sekadar menebak identitas melalui pakaian, melainkan pembuktian medis yang objektif.
Peran dan Tugas Tim DVI
Tim DVI terdiri dari berbagai ahli lintas disiplin, mulai dari dokter forensik, ahli gigi (odontolog), pakar sidik jari, hingga ahli DNA. Tugas mereka terbagi dalam 4 fase utama (plus fase evaluasi):
Fase 1: The Scene (Olah TKP)
- Tim menandai lokasi penemuan jenazah dan properti.
- Tugas utama: Evakuasi jenazah dengan hati-hati tanpa merusak bukti-bukti identifikasi yang melekat.
Baca juga: Polda Jatim Terjunkan Tim DVI Bantu Evakuasi-Identifikasi Korban Robohnya Ponpes Sidoarjo
2. Fase 2: Post-Mortem (PM)
- Dilakukan di ruang jenazah/RS. Ahli memeriksa data fisik jenazah.
- Tugas utama: Mencatat data primer (sidik jari, rekam gigi, DNA) dan data sekunder (tato, bekas luka, pakaian).
3. Fase 3: Ante-Mortem (AM)
- Tim mewawancarai keluarga korban.
- Tugas utama: Mengumpulkan data korban semasa hidup (foto terakhir, rekam medis gigi, sampel DNA keluarga, atau pakaian yang belum dicuci).
4. Fase 4: Reconciliation
- Sidang dewan pakar untuk membandingkan data PM dan data AM.
- Tugas utama: Menentukan apakah ada kecocokan (match). Identitas dinyatakan positif jika minimal ada satu kecocokan data primer (misal: DNA atau gigi).
DVI vs. Ilmu Forensik Umum: Apa Bedanya?
Banyak yang mengira DVI dan Forensik adalah hal yang sama. Padahal, DVI adalah bagian spesifik dari aplikasi ilmu forensik.
Dalam ilmu forensik fokus utamanya adalah mencari penyebab, cara kematian, dan siapa pelakunya. Sedangkan DVI, mereka lebih fokus mencari identitas korban sebuah kecelakaan atau bencana alam.
Metode kerja yang dianut dalam ilmu forensik umum adalah melakukan autopsi untuk melihat trauma/racun/luka pada korban. Sementara, DVI melakukan pencocokan data antara sebelum dan sesudah kematian.
Ilmu forensik umum output-nya adalah memberikan laporan hasil autopsi untuk bukti di pengadilan. Sedangkan DVI adalah melakukan penyerahan jenazah kepada keluarga dengan identitas yang sah.
Mengapa DVI Sangat Penting?
Selain untuk memberikan kepastian bagi keluarga yang berduka, DVI memiliki aspek legal yang vital. Tanpa identifikasi resmi (Sertifikat Identifikasi), keluarga tidak bisa mengurus:
- Akta Kematian.
- Klaim Asuransi.
- Hukum Waris.
- Status pernikahan pasangan yang ditinggalkan.
DVI adalah jembatan antara sains dan kemanusiaan, saat bencana merenggut identitas fisik seseorang mereka bekerja dengan ketelitian tinggi untuk mengembalikan "nama" para korban. Ini adalah bentuk penghormatan terakhir yang paling tinggi bagi para korban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Interpol.int