Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 31 MEI 2026 • 09:10 WIB

Catatan Indozone: Menembus Pelosok Maluku saat Iduladha: Desa Tanpa Internet hingga Daging Kurban Jadi Makanan Mewah Warga

Catatan Indozone: Menembus Pelosok Maluku saat Iduladha: Desa Tanpa Internet hingga Daging Kurban Jadi Makanan Mewah WargaWarga di Pulau Tiga, Ambon, Maluku membawa pulang daging kurban yang dibagikan dari Dompet Dhuafa. (Indozone/Samsudhuha Wildansyah)

INDOZONE.ID - Minggu, 24 Mei 2026 malam, langkah kaki kami terasa sangat ringan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang untuk melihat secara langsung proses Iduladha di pelosok Timur Indonesia. Sepekan lebih di sana, kami cukup kaget melihat prosesi Iduladha  di sana yang sangat berbeda dengan Ibu Kota.

Tiba di Bandara Soetta dini hari, kami bertemu dengan tim Dompet Dhuafa, jurnalis, influencer, dan aktor Masaji Wijayanto. Kami bersama-sama menjadi satu tim dalam perjalanan ini.

Tapi, mereka ya mereka, kami ya kami Indozone. Kami melakukan perjalanan, melakukan pendalaman lebih jauh dan menulis kisah masyarakat pelosok untuk khalayak pembaca Indozone.

Baca juga: Presiden Prabowo Salat Iduladha 1447 H di Paris Bersama Diaspora Indonesia

Pesawat kami terbang pada pukul 01.25 WIB dari Bandara Soetta dan tiba di Bandara Pattimura Ambon pada pukul 07.15 WIT. Tiba di tanah Ambon, langkah kami semakin cepat bergerak menuju pesawat selanjutnya yakni pesawat kecil untuk menuju wilayah Namlea.

Untungnya kami bisa menaiki pesawat ATR yang bisa menghemat waktu. Sebab jika melalui laut perjalanan kami bisa menghabiskan waktu delapan jam lamanya.

Kisah di Perkampungan Mualaf

Dompet Dhuafa baru saja membangun dan meresmikan masjid pertama yang ada di Desa Wabloi Adat, Kampung Mualaf, Namlea. Mereka juga memberikan dua ekor sapi untuk dikurbankan pada momen idul adha kali ini.

Kami memang tidak menyaksikan langsung prosesi pemotongan Iduladha di sana karena kami tiba pada Selasa, 26 Mei. Meski begitu, di sana kami bertemu dengan sosok ustaz berdarah Jawa yang sangat berperan di kampung tersebut.

Namanya ustaz Fauzan Abdurahman. Ia merupakan pribadi yang sederhana tapi memiliki peran luar biasa karena sudah banyak memualafkan warga di sana. 

Desa Terisolir, Tanpa Internet

Hari selanjutnya langkah kaki kami tentunya semakin cepat untuk masuk ke jantung lebih dalam pelosok di Maluku. Kami melanjutkan perjalanan darat cukup jauh menerobos hutan sampai mobil kami terhenti lantaran akses jalan terputus sungai.

Sungai cukup deras, tak ada penerangan apalagi jembatan. Dibalut derasnya hujan di tengah malam itu, kami harus menaiki rakit kayu untuk menyebrang dengan ditemani cahaya lampu senter dari ponsel kami masing-masing.

Setelah menyebrang sungai, kami dipaksa berjalan kaki kurang lebih 1 km dengan kontur jalan berbatu dan tergenang air serta berlumpur. Seolah membelah hutan belantara tengah malam, seperti tak ada kehidupan di sepanjang jalan.

Di ujung jalan, kami melihat lampu berwarna agak orange, sangat remang membentang sepanjang jalan. Tidak panjang, lampu-lampu itu seolah menyambut kita saat menapakan kaki di desa bernama Wamana Baru.

Ya, daerah ini sangat terisolir dan seolah terpinggirkan. Bukan tanpa alasan, suasana di sini sangatlah jauh dari kehidupan di kota-kota besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Dan Pengalaman Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Catatan Indozone: Menembus Pelosok Maluku saat Iduladha: Desa Tanpa Internet hingga Daging Kurban Jadi Makanan Mewah Warga

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!