INDOZONE.ID - Amerika Serikat (AS) telah mengungkap informasi intelijen baru terkait kemampuan militer Rusia dalam upayanya untuk memperkuat sistem anti-satelit nuklir di luar angkasa.
Informasi ini telah disampaikan kepada Kongres AS dan sekutu-sekutu utama negara tersebut hingga bikin ketar-ketir, memicu perhatian serius dari beberapa anggota parlemen yang menganggapnya sebagai isu penting yang harus diumumkan dan dipublikasikan.
Namun, para pejabat AS menekankan bahwa meskipun informasi intelijen ini mengkhawatirkan, hal ini tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap AS atau kepentingannya.
Menurut tiga pejabat AS yang mengetahui informasi intelijen tersebut, sistem yang dimaksud masih dalam tahap pengembangan dan belum berada di orbit.
Baca Juga: Diduga Kelelahan, Petugas KPPS di Jakpus Tewas Usai Tabrak Trotoar saat Antar Surat Suara
Namun, mereka tidak dapat memastikan sejauh mana kemajuan teknologinya. Tidak jelas apakah intelijen tersebut merujuk pada kemampuan anti-satelit bertenaga nuklir atau kemampuan bersenjata nuklir.
Meskipun beberapa anggota Kongres meremehkan ancaman tersebut, Direktur Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika Hans Kristensen mengingatkan bahwa senjata anti-satelit yang ditempatkan di orbit Bumi dapat menimbulkan bahaya yang signifikan terhadap satelit komando dan kontrol nuklir AS.
Sebaliknya, AS bergantung pada satelit-satelit tersebut untuk memastikan kendali yang konstan dan mulus atas persenjataan nuklirnya.
Sementara beberapa negara telah menguji senjata anti-satelit di masa lalu, penempatan senjata semacam itu di orbit akan menjadi eskalasi yang serius. Kristensen menekankan bahwa bahkan senjata konvensional pada sistem anti-satelit orbital dapat menimbulkan ancaman signifikan bagi AS.
Baca Juga: Hindari Angkot, Pengendara Wanita di Jaktim Terjatuh dari Motor hingga Mata Terluka
“Jika itu orbital, maka ini merupakan tingkat ancaman baru [terhadap sistem], baik itu nuklir atau tidak. Bahkan senjata konvensional pada sistem anti-satelit orbital dapat menimbulkan ancaman signifikan bagi AS,” kata Kristensen, dilansir CNN, Jumat (16/2/2024).
Meskipun informasi intelijen ini terkait dengan kemampuan nuklir berbasis ruang angkasa Rusia, belum ada kejelasan apakah ini melanggar perjanjian internasional.
Namun demikian, penggunaan senjata nuklir di luar angkasa akan melanggar Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967, yang secara tegas melarang "benda apa pun yang membawa senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah massal lainnya" berada di orbit.
Kehebohan mengenai informasi intelijen baru ini terjadi dalam konteks ketegangan yang meningkat antara AS dan Rusia, serta dalam situasi politik AS yang rumit.
Mantan Presiden Donald Trump secara terbuka mendukung anggota Partai Republik yang menentang paket bantuan senilai $60 miliar untuk Ukraina dalam perjuangannya melawan Rusia. Ini menciptakan tekanan tambahan di antara para pemimpin politik AS.
Meskipun begitu, langkah-langkah lebih lanjut dalam menangani informasi intelijen ini masih harus diambil. Para pemimpin Kongres menghadapi tantangan dalam mendeklasifikasi informasi tersebut tanpa mengungkapkan sumber dan metode yang sensitif.
Sementara itu, permintaan untuk mendeklasifikasi informasi tersebut telah muncul dari berbagai pihak, termasuk dari anggota Kongres Mike Turner, yang mendesak pemerintahan Biden untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam menanggapi ancaman ini.
Baca Juga: Hari ke-2 Pasca Pencoblosan, Masih Ada 514 TPS di Papua yang Belum Mencoblos
Dengan situasi yang semakin tegang, para pemimpin AS terus berupaya untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional dalam menghadapi tantangan yang kompleks dan berkembang di panggung global.
Sebelumnya pada Rabu (14/2/2024), ketua Komite Intelijen DPR sekaligus anggota Partai Republik Mike Turner dari Ohio memicu keributan di Capitol Hill ketika dia mengeluarkan pernyataan samar, yang mengumumkan bahwa panel tersebut memiliki informasi mengenai ancaman keamanan nasional yang serius.
“Hal itu berkaitan dengan kemampuan militer asing yang mengganggu stabilitas yang harus diketahui oleh semua pembuat kebijakan di kongres,” ujar Turner.
Perlu diketahui, selama bertahun-tahun, Rusia telah menerapkan sistem antariksa yang dirancang untuk menetralisir sistem ruang angkasa militer dan komersial AS, menurut laporan Badan Intelijen Pertahanan (DIA) tahun 2022 tentang keamanan ruang angkasa.
Doktrin Rusia menyerukan kemampuan untuk menargetkan satelit musuh dari darat, udara, dunia maya, dan luar angkasa, menggunakan serangan yang berkisar dari gangguan sementara hingga kehancuran total.
Pada tahun 2020, Rusia menguji senjata anti-satelit berbasis ruang angkasa dengan kemampuan orbital canggih yang dapat memiliki dua tujuan: dapat melayani dan memeriksa satelit sahabat sekaligus memiliki kemampuan untuk menyerang satelit musuh.
Upaya untuk meluncurkan sistem anti-satelit bersenjata nuklir ke luar angkasa akan melanggar Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967, yang secara eksplisit melarang “benda apa pun yang membawa senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah massal lainnya” berada di orbit.
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: CNN International