INDOZONE.ID - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa kembali menimbulkan korban jiwa.
Di Prancis, sedikitnya 40 orang dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam ketika mencoba berenang untuk mengatasi suhu panas yang melanda wilayah tersebut sejak akhir pekan lalu.
Perdana Menteri Prancis menyampaikan, para korban umumnya tenggelam di area perairan yang tidak diawasi, seperti sungai, kanal, dan danau.
Banyak warga memilih langsung terjun ke air, sebagai upaya untuk mendinginkan tubuh di tengah suhu yang sangat tinggi.
Baca juga: Prancis Karantina 1700 Penumpang Kapal Pesiar Setelah Seorang Lansia Meninggal Dunia
Suhu ekstrem capai hingga 43 derajat Celsius
Hampir seluruh wilayah Prancis saat ini berada dalam status siaga panas tinggi. Badan meteorologi Prancis, Météo-France, memperkirakan suhu bisa mencapai sekitar 40°C di banyak wilayah, bahkan menyentuh 43°C di bagian barat negara tersebut.
Kondisi ini menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu. Warga terlihat membawa kipas portabel di transportasi umum, sementara sejumlah perjalanan kereta, termasuk rute Paris-Brussels, harus dibatalkan.
Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Prancis, 68 Ribu Rumah Alami Pemadaman Listrik
Gelombang panas juga melanda negara Eropa lain
Selain Prancis, negara-negara lain seperti Inggris, Italia, Spanyol, dan Belgia juga terdampak suhu ekstrem ini.
Di Inggris, suhu diperkirakan mencapai 37°C di wilayah selatan, bahkan berpotensi memecahkan rekor suhu bulan Juni.
Sementara di Italia, pemerintah menetapkan status siaga kesehatan tertinggi di 15 kota, dan membatasi jam kerja di beberapa sektor.
Spanyol mencatat suhu hingga 44°C di sejumlah wilayah, bahkan sempat menembus 45°C di bagian selatan pada hari sebelumnya.
Fenomena atmosfer pemicu panas ekstrem
Ahli meteorologi menjelaskan, kondisi ini dipicu oleh pola cuaca “Omega block”, yakni sistem tekanan udara yang memerangkap udara panas di wilayah Eropa Barat dan Tengah.
Fenomena tersebut juga menyebabkan terbentuknya “heat dome”, yang membuat panas terperangkap lebih lama, sehingga suhu terus meningkat dari hari ke hari.
Para ilmuwan menegaskan, perubahan iklim turut memperburuk intensitas dan frekuensi gelombang panas seperti ini.
Aktivitas warga dan ekonomi ikut terganggu
Gelombang panas ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi.
Sejumlah sekolah ditutup lebih awal, sementara jaringan transportasi mengalami keterlambatan akibat suhu ekstrem yang memengaruhi infrastruktur.
Di Paris, banyak warga mengalami kesulitan tidur karena suhu malam hari tetap tinggi, sehingga penggunaan kipas dan pendingin udara meningkat tajam.
Imbauan pemerintah
Otoritas di berbagai negara Eropa mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam terpanas serta tidak berenang di lokasi yang tidak diawasi.
Pemerintah juga terus memperkuat langkah darurat, untuk mengurangi dampak gelombang panas yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com