Kamis, 18 JUNI 2026 • 16:00 WIB

Bos Pusat Penipuan Online di Kamboja Dipulangkan ke China, Diduga Terlibat Kejahatan Siber

Author

Seorang pria melihat bangunan yang dikenal sebagai Jinbei 4, bagian dari kompleks yang diduga dibangun dan dioperasikan oleh Prince Group milik Chen Zhi di Sihanoukville, Kamboja, pada 15 Januari 2026. (Reuters/Majid Asgaripour)

INDOZONE.ID - Seorang tokoh penting yang diduga menjadi bagian dari jaringan kejahatan terorganisasi yang mengoperasikan pusat-pusat penipuan online di Kamboja telah dipulangkan ke China untuk menghadapi proses hukum.

Kementerian Keamanan Publik China pada Rabu (17/6/2026) mengumumkan bahwa pria bernama Liu Ren berhasil dibawa kembali dari Phnom Penh dalam operasi kerja sama penegakan hukum antara China dan Kamboja.

Dalam rekaman video yang dirilis pihak berwenang China, Liu terlihat mengenakan borgol saat tiba di negaranya setelah diterbangkan menggunakan pesawat China Southern Airlines. 

Otoritas China menyebut Liu sebagai salah satu anggota utama sindikat kriminal yang dipimpin oleh Chen Zhi.

Baca juga: Nonton Piala Dunia 2026 Berujung Petaka, 2 Suporter China Jadi Korban Perampokan Bersenjata di Meksiko

Kamboja Jadi Sorotan Terkait Pusat Penipuan Daring

Dalam beberapa tahun terakhir, Kamboja menjadi sorotan internasional karena maraknya pusat-pusat penipuan daring yang beroperasi di negara tersebut. 

Sindikat kejahatan ini menjalankan berbagai modus, mulai dari penipuan asmara hingga investasi mata uang kripto palsu yang menyasar korban dari berbagai negara.

Banyak dari operasi tersebut dijalankan dari kompleks khusus yang dikenal sebagai scam center. Sejumlah laporan menyebut sebagian pekerja direkrut secara sukarela, sementara lainnya diduga menjadi korban perdagangan manusia dan dipaksa menjalankan aksi penipuan terhadap pengguna internet di seluruh dunia.

Di bawah tekanan sejumlah negara, termasuk China, pemerintah Kamboja dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan upaya pemberantasan jaringan penipuan tersebut.

Baca juga: PM Pakistan Kunjungi China di Tengah Bayang-bayang Konflik Iran

Diduga Kelola Kawasan Penipuan Telekomunikasi

Menurut Kementerian Keamanan Publik China, Chen Zhi memerintahkan Liu Ren dan sejumlah orang lainnya mendirikan Jin Bei Group di Kamboja pada 2016.

Perusahaan itu diduga mengoperasikan kawasan yang digunakan sebagai pusat penipuan telekomunikasi dan penipuan online dalam skala besar. 

Otoritas China menuduh kelompok tersebut menjalankan berbagai aksi kejahatan siber yang menghasilkan keuntungan ilegal bernilai sangat besar.

Selain dugaan keterlibatan dalam penipuan daring, Liu juga disebut terkait dengan sejumlah tindak pidana berat lainnya, termasuk penahanan ilegal dan penganiayaan.

Saat ini, Liu telah berada dalam pengawasan aparat penegak hukum China dan kasusnya masih dalam tahap penyelidikan.

Kelanjutan Penindakan terhadap Jaringan Chen Zhi

Pemulangan Liu Ren merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membongkar jaringan yang diduga dipimpin Chen Zhi. 

Sebelumnya, pada Januari 2026, Kamboja juga menyerahkan Chen kepada China setelah pengusaha kelahiran China itu dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan Inggris atas dugaan keterlibatannya dalam aktivitas penipuan siber.

Pihak berwenang China menyebut keberhasilan membawa pulang Liu sebagai bukti eratnya kerja sama antara Beijing dan Phnom Penh dalam memberantas kejahatan lintas negara.

China dan Kamboja Perkuat Kerja Sama

Kasus Liu Ren menambah daftar tersangka kejahatan siber yang dipulangkan dari Kamboja ke China. 

Pada April lalu, mantan eksekutif perusahaan jasa keuangan asal China, Li Xiong, juga dibawa kembali ke negaranya untuk menghadapi tuduhan pencucian uang yang diduga terkait jaringan peretas Korea Utara dan kelompok kejahatan siber di Asia Tenggara.

Pemerintah Kamboja sendiri terus meningkatkan operasi terhadap pusat-pusat penipuan online yang beroperasi di wilayahnya. 

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan aktivitas kejahatan siber sekaligus memperbaiki citra negara yang selama ini kerap dikaitkan dengan maraknya scam center di kawasan Asia Tenggara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU