Kamis, 18 JUNI 2026 • 13:39 WIB

Donald Trump Jadi Sorotan di KTT G7, Ucapkan "Saya Bosnya" di Hadapan Pemimpin Dunia

Author

Presiden AS Donald Trump berbicara dalam konferensi pers pada KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, 17 Juni 2026. (REUTERS/Evelyn Hockstein)

INDOZONE.ID - Dalam pertemuan yang dihadiri para pemimpin negara maju dunia tersebut, Trump melontarkan pernyataan bernada santai namun mencuri perhatian dengan mengatakan, “Saya bosnya.”

Pernyataan tersebut muncul ketika para pemimpin G7 menunjukkan sikap yang lebih solid dalam mendukung Ukraina serta meningkatkan tekanan terhadap Rusia di tengah perang yang masih berlangsung.

G7 Kompak Dukung Ukraina

Dalam pernyataan bersama yang dirilis di akhir pertemuan, negara-negara anggota G7 sepakat untuk terus memberikan dukungan kepada Ukraina. Mereka juga menyatakan akan memperketat sanksi terhadap Rusia.

Kesepakatan itu dinilai memperkuat posisi Ukraina menjelang kemungkinan pembicaraan damai dengan Moskow. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy datang ke forum tersebut dengan harapan dapat meyakinkan Trump bahwa perlawanan Ukraina di medan perang menunjukkan hasil positif dan Rusia tidak berada dalam posisi untuk menentukan syarat perdamaian secara sepihak.

Sejumlah pemimpin Barat menilai pesan tersebut berhasil diterima oleh Trump. Setelah beberapa tahun dikenal cukup skeptis terhadap dukungan besar kepada Ukraina, Presiden AS kini dinilai menunjukkan perubahan sikap.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut perkembangan tersebut sebagai “perubahan nyata” dalam pendekatan Amerika Serikat terhadap konflik Ukraina. Menurutnya, hasil KTT kali ini dapat dianggap sebagai sebuah keberhasilan diplomatik.

Perubahan itu cukup signifikan mengingat pada KTT G7 tahun lalu di Kanada, para pemimpin negara anggota gagal mencapai kesepakatan bersama terkait Ukraina.

Baca juga: Donald Trump Harap Selat Hormuz Dibuka Jumat Ini, tapi …

Pemimpin Eropa Sambut Perubahan Sikap Trump

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan para pemimpin G7 berhasil menemukan titik temu dengan Trump mengenai berbagai isu penting, termasuk perang di Ukraina.

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney memuji adanya perubahan posisi yang ditunjukkan Amerika Serikat dan Trump dalam isu tersebut.

Berbeda dengan tahun sebelumnya ketika Trump meninggalkan KTT lebih awal karena situasi di Timur Tengah, kali ini ia mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai. 

Kehadirannya hingga akhir pertemuan dianggap membantu tercapainya sejumlah kesepakatan bersama, mulai dari isu Ukraina, kecerdasan buatan (AI), hingga pasokan mineral kritis.

Meski demikian, para pemimpin G7 menyadari bahwa upaya mendorong Rusia menuju meja perundingan masih sangat bergantung pada komitmen Washington.

Saat memasuki sesi pembahasan mengenai keamanan ekonomi global, Trump kembali menarik perhatian dengan mengatakan kepada para pemimpin dunia dan wartawan yang hadir, “Saya bosnya.

Baca juga: Trump Tak Akan Akhiri Gencatan Senjata dengan Iran Kecuali Tentara AS Dibunuh

Kesepakatan Awal AS-Iran Jadi Sorotan

Selain membahas Ukraina, para pemimpin G7 juga menyoroti perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Mereka menyambut baik adanya kesepakatan awal perdamaian yang telah dicapai kedua negara dan menyatakan kesiapan untuk membantu implementasinya. Namun, belum ada kejelasan mengenai peran yang akan dimainkan negara-negara G7 dalam proses tersebut.

Beberapa negara Eropa mengkhawatirkan bahwa tim negosiasi AS yang relatif baru belum tentu mampu menghasilkan kesepakatan nuklir yang kuat, termasuk dalam menangani program rudal balistik Iran.

Trump sendiri menegaskan bahwa nota kesepahaman dengan Iran belum bersifat final. Ia bahkan mengingatkan bahwa Amerika Serikat dapat kembali melakukan serangan militer jika Iran dianggap melanggar komitmen yang telah disepakati.

Menurut Trump, seluruh opsi tetap berada di atas meja apabila Teheran tidak mematuhi kesepakatan yang sedang dirundingkan.

G7 Ingin Kurangi Ketergantungan pada China

Dalam agenda lain, para pemimpin G7 sepakat meningkatkan koordinasi guna mengurangi ketergantungan negara-negara Barat terhadap China dalam pasokan mineral kritis.

Mineral kritis menjadi komponen penting bagi industri pertahanan, teknologi tinggi, kendaraan listrik, hingga energi terbarukan. Selama ini China mendominasi rantai pasok global untuk berbagai bahan baku tersebut.

Untuk mengurangi risiko ketergantungan, G7 berencana menyelaraskan kebijakan cadangan strategis dan membentuk platform kerja sama baru yang melibatkan peran lebih besar dari Badan Energi Internasional (IEA).

Langkah itu menjadi bagian dari upaya negara-negara Barat untuk memperkuat keamanan rantai pasok sekaligus mengurangi pengaruh Beijing dalam sektor sumber daya strategis.

AI Juga Jadi Topik Pembahasan

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi salah satu agenda utama dalam KTT G7 tahun ini.

Para pemimpin negara anggota membahas berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi AI, termasuk tanggung jawab hukum terhadap bot dan agen AI serta persoalan penyebaran informasi benar dan salah di ruang digital.

Diskusi tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh penting industri teknologi, termasuk pendiri OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei.

Para pemimpin G7 menilai perkembangan AI yang sangat cepat membutuhkan koordinasi global agar manfaat teknologi dapat dimaksimalkan tanpa mengorbankan keamanan, transparansi, dan kepercayaan publik.

KTT G7 di Prancis menunjukkan adanya sinyal perubahan dalam sikap Amerika Serikat terhadap perang Ukraina. Dukungan yang lebih kuat dari Washington dinilai dapat memperbesar peluang Kyiv dalam menghadapi Rusia, baik di medan perang maupun dalam proses diplomasi ke depan.

Di sisi lain, isu Iran, kecerdasan buatan, dan ketahanan rantai pasok mineral kritis juga menjadi fokus utama para pemimpin dunia. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU