INDOZONE.ID - Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil peran utama dalam mendorong penyelesaian damai atas ketegangan yang melibatkan Korea Utara.
Permintaan tersebut disampaikan dalam percakapan singkat di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang berlangsung pada Selasa (16/6/2026).
Menurut kantor kepresidenan Korea Selatan, kedua pemimpin sempat berbincang saat sesi foto bersama para pemimpin negara peserta KTT. Dalam kesempatan itu, Trump menanyakan perkembangan hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara kepada Lee.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Lee menyampaikan harapannya agar Trump dapat memimpin upaya diplomatik untuk menyelesaikan persoalan Korea Utara secara damai, sebagaimana yang pernah dilakukan dalam berbagai inisiatif diplomasi terkait konflik di Timur Tengah.
Juru bicara Presiden Korea Selatan, Kang Yu-jung, mengatakan Trump menyambut baik usulan tersebut. Menurutnya, Trump menyatakan kesediaan untuk membantu mencari jalan keluar atas isu yang berkaitan dengan Korea Utara.
Baca juga: Korea Selatan Targetkan Kapal Selam Bertenaga Nuklir Pertama Meluncur pada 2030-an
G7 Soroti Ancaman Nuklir Korea Utara
Dalam pernyataan bersama yang dirilis usai KTT, para pemimpin negara-negara G7 menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap program nuklir dan rudal balistik yang terus dikembangkan Korea Utara.
Mereka menegaskan kembali komitmen untuk mewujudkan denuklirisasi penuh Korea Utara sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain itu, para pemimpin G7 juga mendesak Pyongyang untuk menyelesaikan isu warga negara Jepang yang diculik pada masa lalu.
Mereka turut menyoroti dugaan keterlibatan Korea Utara dalam berbagai aksi kejahatan siber dan pencurian aset kripto yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Baca juga: Korea Utara Jaga Jarak dengan Iran Demi Buka Peluang Dialog ke AS
Diplomasi Trump dan Kim Pernah Jadi Sorotan Dunia
Hubungan antara Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pernah menjadi perhatian dunia ketika keduanya melakukan serangkaian pertemuan bersejarah saat Trump menjabat sebagai Presiden AS pada periode pertama.
Pertemuan pertama berlangsung di Singapura pada 2018 dan menjadi KTT perdana antara pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara. Setahun kemudian, keduanya kembali bertemu di Hanoi, Vietnam.
Tak lama setelah itu, Trump dan Kim bertemu lagi di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam momen tersebut, Trump menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang sedang menjabat dan menginjakkan kaki di wilayah Korea Utara.
Meski mencatat sejarah, upaya diplomasi tersebut pada akhirnya tidak menghasilkan kesepakatan besar. Pertemuan di Hanoi gagal mencapai titik temu terkait pembongkaran program nuklir Korea Utara dan pelonggaran sanksi internasional yang dipimpin Amerika Serikat.
Trump Masih Tertarik Bertemu Kim Jong Un
Dalam beberapa kesempatan, Trump terus menunjukkan ketertarikannya untuk kembali membuka jalur komunikasi langsung dengan Kim Jong Un.
Pada Agustus 2025, Trump mengatakan dirinya menantikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara tersebut pada waktu yang tepat. Kemudian pada Oktober tahun yang sama, ia kembali menyatakan keinginannya untuk mengadakan pertemuan baru.
Pekan lalu, Trump juga mengunggah foto dirinya bersama Kim Jong Un di platform Truth Social tanpa memberikan keterangan apa pun.
Unggahan tersebut dianggap banyak pihak sebagai sinyal bahwa Trump masih membuka peluang untuk melanjutkan diplomasi dengan Pyongyang.
Menteri yang menangani hubungan dengan Korea Utara Chung Dong-young bahkan menyebut unggahan tersebut sebagai pertanda positif. Menurutnya, Trump kemungkinan akan memberikan perhatian lebih besar terhadap peluang pertemuan dengan Kim setelah situasi konflik yang melibatkan Iran mereda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com