Ilustrasi bayi. (Freepik/Holiak)
INDOZONE.ID - Setelah bertahun-tahun menghadapi penurunan angka kelahiran yang mengkhawatirkan, Korea Selatan akhirnya mulai melihat secercah harapan.
Negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia tersebut kini mencatat peningkatan jumlah bayi lahir, meski masih dalam skala kecil.
Fenomena ini muncul seiring semakin banyak pasangan muda yang mulai berani membangun keluarga di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup tinggi, hingga ketidakpastian masa depan.
Pemerintah Korea Selatan sendiri telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendorong warganya memiliki anak. Mulai dari bantuan tunai, subsidi perawatan bayi, hingga pinjaman rumah berbunga rendah diberikan demi menekan dampak krisis populasi yang terus membayangi negara tersebut.
Baca juga: Hakim Korea Selatan yang Perberat Hukuman Mantan Ibu Negara Ditemukan Meninggal
Kim Su-jin, perempuan berusia 32 tahun yang bekerja lepas di industri musik, menjadi salah satu dari sedikit warga Korea Selatan yang memutuskan untuk memiliki anak.
Setelah empat tahun menikah, ia dan suaminya akhirnya menyambut kelahiran putri mereka pada Januari tahun lalu, meski sebelumnya sempat khawatir soal kondisi finansial.
Ia mengaku sempat memikirkan berbagai hal seperti biaya rumah, pendidikan, dan pekerjaan. Namun pada akhirnya, ia percaya bahwa kehadiran anak akan membawa kebahagiaan dalam hidup mereka.
Baca juga: Kim Jong Un Tegaskan Status Nuklir Korea Utara Tak Bisa Diubah, Ancam Korea Selatan
Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan memang mengalami penurunan angka kelahiran yang sangat tajam. Pada 2023, tingkat fertilitas negara itu bahkan menyentuh rekor terendah. Namun sejak saat itu, jumlah kelahiran bulanan perlahan mulai meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Data kementerian statistik Korea Selatan menunjukkan hampir 23 ribu bayi lahir pada Februari lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk bulan Februari dalam tujuh tahun terakhir. Kenaikan tahunan mencapai 13,6 persen, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1981.
Peningkatan angka kelahiran ini juga sejalan dengan bertambahnya jumlah pernikahan sejak pertengahan 2022. Banyak pengamat menilai generasi muda Korea Selatan mulai memiliki pandangan yang lebih positif terhadap kehidupan berkeluarga.
Profesor ekonomi dari Seoul National University, Hong Sok-chul, menilai kebijakan pemerintah cukup efektif membantu pasangan muda.
Menurutnya, pemerintah tidak memaksa masyarakat untuk menikah atau memiliki anak, melainkan berupaya menekan biaya langsung maupun tidak langsung agar keputusan membangun keluarga terasa lebih realistis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: N.news.naver.com