Sabtu, 28 MARET 2026 • 18:28 WIB

Puluhan Ribu Pengemudi Filipina Mogok 2 Hari, Minta Marcos Jr Kendalikan Harga BBM

Author

Ilustrasi krisis BBM di Filipina (freepik).

INDOZONE.ID - Puluhan ribu pengemudi angkutan umum di Filipina menggelar mogok kerja selama dua hari, Kamis dan Jumat (26-27/3/2026). 

Aksi ini menuntut Presiden Ferdinand Marcos Jr mengambil langkah lebih tegas mengendalikan harga bahan bakar yang meroket akibat perang Iran.

Arturo Modelo, pengemudi jeepney berusia 52 tahun, hanya membawa pulang sepertiga dari penghasilan biasanya. 

Dari 600 peso (sekitar Rp170 ribu) yang biasa ia dapat, kini hanya tersisa 200 peso setelah dipotong biaya bahan bakar.

"Saya bahkan tidak bisa membayar uang jajan anak saya," ujarnya kepada Al Jazeera.

Baca juga: 9 Juta Orang dari Seluruh Negara Bagian Turun dalam Demonstrasi "No Kings" Memprotes Trump

Ribuan Pekerja Transportasi Turun ke Jalan

Pekan ini, aksi mogok semakin membesar setelah pekan lalu pemilik jeepney melakukan aksi serupa. 

Puluhan ribu pekerja transportasi—dari pengemudi bus, taksi, minibus, hingga ojek online—bergabung dalam aksi mogok yang diorganisir hampir belasan kelompok transportasi nasional.

Mereka berunjuk rasa di depan Istana Presiden pada Jumat. Mereka menuntut penerapan harga batas maksimal (price cap) untuk bensin dan solar; penghapusan pajak bahan bakar; dan regulasi lebih ketat terhadap industri minyak.

Koalisi No to Oil Price Hike yang mengorganisir aksi menyebut pemerintah terlalu lambat merespons. Tuntutan mereka telah diabaikan selama berminggu-minggu.

Baca juga: Harga BBM Melonjak, Thailand Terancam Gagal Panen dan Krisis Pangan

"AS Juga Jatuhkan Bom ke Kami"

Kelompok buruh juga mengecam apa yang mereka sebut sebagai "agresi Amerika" terhadap Iran yang menyebabkan penderitaan ekonomi di Filipina.

"Orang Filipina tidak memulai perang ini, tidak ingin terlibat, tapi menderita karenanya," kata Jerome Adonis, ketua kelompok buruh nasional Kilusang Mayo Uno.

"Rasanya Amerika Serikat juga menjatuhkan bom ke kita," ujarnya.

Baca juga: Yaman Khawatir Terseret Konflik AS-Iran, Beban Ekonomi Bisa Jadi Krisis Kemanusiaan

Filipina Terdampak Paling Parah di Asia Tenggara

Filipina mengalami dampak kenaikan harga minyak lebih parah dibanding negara tetangga. Harga diesel dan bensin di Filipina termasuk tertinggi di Asia Tenggara, sedikit di bawah Singapura.

Data pekan ini menunjukkan:

  • Diesel Singapura: $2,7 per liter
  • Diesel Filipina: $2,3 per liter
  • Bensin Singapura: $2,35 per liter
  • Bensin Filipina: hampir $2 per liter

Sebagai perbandingan, Malaysia, Vietnam, dan Thailand mencatat harga sekitar setengahnya.

Baca juga: Filipina Dilanda Krisis BBM, Wacana Penundaan KTT ASEAN Menguat

Darurat Energi Dideklarasikan, Tapi Belum Cukup

Presiden Marcos Jr mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026). 

Deklarasi yang berlaku setahun ini memungkinkan pemerintah mempercepat pengadaan bahan bakar dan mengambil tindakan terhadap penimbunan serta manipulasi pasokan.

Namun, para pengemudi menilai langkah itu belum cukup. Mody Floranda, presiden kelompok transportasi Piston, menuduh Marcos Jr lebih memihak perusahaan minyak.

"Sekarang, Marcos bisa mengeluarkan perintah eksekutif untuk harga batas. Dia bilang ini darurat tapi bertindak seperti tidak," kata Floranda.

Baca juga: Kapal Malaysia Dapat Izin Lewati Selat Hormuz, Anwar Ibrahim Ucapkan Terima Kasih ke Iran

Subsidi Tak Merata, Ribuan Pengemudi Tak Kebagian

Pemerintah telah menyalurkan subsidi bahan bakar sebesar 2,5 miliar peso (sekitar Rp690 miliar) pekan ini kepada hampir 300.000 pekerja transportasi. 

Namun kelompok advokasi menyebut ada sekitar 2 juta orang yang bekerja di sektor ini.

Banyak pengemudi melaporkan mengantre panjang atau bahkan tidak mendapatkan bantuan karena data mereka tidak tercatat dalam basis data pemerintah.

Modelo, pengemudi jeepney, mengatakan tidak ada seorang pun di terminal tempatnya bekerja yang menerima bantuan pemerintah.

Baca juga: Panic Buying Melanda Australia, PM Albanese Pastikan Pasokan BBM Aman

Pakar: 98 Persen Minyak Impor, Regulasi Era 1998 Jadi Biang Kerok

Para pakar menyebut tingginya harga di Filipina disebabkan oleh ketergantungan impor, pasar yang tidak diatur (deregulasi), pajak cukai, dan pajak pertambahan nilai (VAT) sebesar 12 persen.

Menurut Departemen Energi, sekitar 98 persen pasokan minyak mentah domestik diimpor. Profesor ekonomi Krista Yu dari De La Salle University mengatakan kapasitas produksi dan pengilangan dalam negeri sangat terbatas.

Emmanuel Leyco, ekonom di Credit Rating and Investors Services Philippines, menyalahkan Undang-Undang Deregulasi Industri Minyak 1998 yang membiarkan penyesuaian harga di tangan pelaku industri.

"Ia adalah biang kerok utamanya. Bahkan penyesuaian harga kecil menyebabkan masalah serius karena setengah penduduk miskin," kata Leyco.

Baca juga: Australia Larang Warga Iran Berkunjung, Ini Alasannya

Langkah Baru: Pembebasan Pajak Sementara, Tapi Tak Cukup

Menghadapi kemungkinan aksi mogok lebih lanjut dan ketidakpuasan publik yang meluas, Marcos Jr menandatangani undang-undang pada Rabu (25/3/2026) yang memungkinkannya menangguhkan sementara pajak cukai bahan bakar ketika harga minyak mentah melampaui batas tertentu selama sebulan.

Namun, anggota parlemen oposisi Renee Co mempertanyakan mengapa pajak pertambahan nilai tidak juga dihapus. 

"Kedua bentuk pajak itu regresif karena membebani biaya komoditas kepada rakyat," ujarnya.

Co dan 50 anggota parlemen lainnya telah mengajukan resolusi yang menyerukan penghentian permusuhan di Iran, terutama mengakhiri agresi militer yang diprakarsai Amerika Serikat dan Israel.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU