Ilustrasi kenaikan harga BBM di Thailand (freepik).
INDOZONE.ID - Di Provinsi Ayutthaya, Thailand Tengah, Thanadet Traiyot mengantre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar dengan membawa jeriken kosong. Ia berharap bisa mendapatkan solar untuk mengairi sawahnya.
Namun saat gilirannya tiba, stasiun itu kehabisan stok. Itu terjadi lima hari lalu.
Hingga kini, ia belum bisa mengisi kembali persediaan solar ke tingkat normal.
Baca juga: Yaman Khawatir Terseret Konflik AS-Iran, Beban Ekonomi Bisa Jadi Krisis Kemanusiaan
Kembali ke sawahnya, Thanadet berjalan di antara padi yang mulai tinggi.
Ia harus mematikan beberapa pompa air karena solar tak cukup untuk mengoperasikan semuanya.
"Ini sangat mempengaruhi kami sebagai petani. Kami bergantung pada bahan bakar untuk operasional. Kami butuh bahan bakar untuk merawat tanaman dan memompa air," kata Thanadet.
Masalahnya bukan hanya kelangkaan, tapi juga harga. Harga solar di Thailand naik menjadi 38,94 baht per liter pada Kamis (26/3/2026) setelah subsidi pemerintah berakhir. Sebelum perang Iran meletus, harga berada di kisaran 29,94 baht per liter.
Baca juga: Filipina Dilanda Krisis BBM, Wacana Penundaan KTT ASEAN Menguat
Thailand dan negara-negara tetangganya yang bergantung pada energi impor dari Timur Tengah kini merasakan langsung dampak krisis energi akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Pemerintah Thailand mengaku memiliki cadangan energi untuk 100 hari. Namun di banyak wilayah, antrean panjang dan papan "habis" sudah terlihat di stasiun pengisian.
Krisis ini telah berdampak pada kehidupan ekonomi sehari-hari penduduk. Taksi di Bandara Bangkok mengurangi layanan.
Kapal wisata berhenti beroperasi. Beberapa kuil bahkan sampai menghentikan layanan kremasi.
Baca juga: Kapal Malaysia Dapat Izin Lewati Selat Hormuz, Anwar Ibrahim Ucapkan Terima Kasih ke Iran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian