INDOZONE.ID - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) kembali mengingatkan negara-negara di dunia untuk segera menyelesaikan bagian penting dari perjanjian pandemi global. Kesepakatan ini dinilai krusial untuk mencegah kekacauan seperti yang terjadi saat pandemi COVID-19.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa waktu yang tersisa sangat terbatas. Ia memperingatkan bahwa dunia tidak boleh menunda proses tersebut.
“Kita harus menyelesaikan ini. Pandemi berikutnya tidak akan menunggu,” tegas Tedros.
Baca juga: Besaran Dana AS ke WHO: Ini Kerugian Terbesar Keluarnya Paman Sam!
Fokus pada Bagian Krusial Perjanjian
Saat ini, para anggota WHO tengah berkumpul di markas besar organisasi tersebut di Geneva untuk membahas bagian paling kompleks dari perjanjian tersebut.
Mereka diberi waktu hingga akhir pekan untuk menyepakati mekanisme teknis yang akan menentukan bagaimana perjanjian ini dijalankan secara nyata.
Perjanjian pandemi ini sebenarnya telah disepakati secara prinsip pada Mei 2025, setelah lebih dari tiga tahun negosiasi yang dipicu oleh dampak global COVID-19.
Tujuannya adalah memperkuat koordinasi internasional, sistem pengawasan penyakit, serta akses yang lebih adil terhadap vaksin dan pengobatan.
Namun, satu komponen penting masih belum final, yaitu sistem Pathogen Access and Benefit-Sharing (PABS).
Baca juga: Virus Nipah Kembali Makan Korban di India, WHO Peringatkan Potensi Pandemi
Apa Itu Sistem PABS?
Sistem PABS menjadi inti dari perjanjian ini. Mekanisme tersebut mengatur bagaimana negara-negara berbagi akses terhadap patogen berpotensi pandemi, sekaligus membagi manfaat yang dihasilkan, seperti:
- Vaksin
- Alat tes
- Pengobatan
Negara-negara diberi waktu tambahan selama satu tahun untuk merampungkan detail implementasi sistem ini. Targetnya, kesepakatan final harus tercapai sebelum pertemuan Majelis Kesehatan Dunia pada pertengahan Mei mendatang.
“Sudah Dekat, Tapi Belum Selesai”
Tedros menyebut proses negosiasi kini sudah mendekati tahap akhir, namun belum sepenuhnya tuntas.
Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan saat ini bisa jadi merupakan peluang terbaik untuk mencapai kesepakatan.
“Kita sudah sangat dekat, tapi memang belum sampai tujuan,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai konflik global termasuk ketegangan di Timur Tengah menunjukkan bahwa krisis kesehatan bisa muncul kapan saja dan berdampak lintas negara.
Belajar dari Pandemi COVID-19
Tedros, yang memimpin WHO selama pandemi COVID-19, menekankan pentingnya memastikan bahwa perjanjian ini benar-benar mampu mengatasi masalah yang pernah terjadi sebelumnya.
Ia meminta negara-negara untuk mengevaluasi apakah isi perjanjian sudah cukup kuat untuk menghadapi krisis di masa depan.
“Kita harus menggunakan seluruh kemampuan kita untuk menyelesaikan kesepakatan ini, agar empat setengah tahun terakhir tidak sia-sia,” katanya.
Risiko Jika Gagal Disepakati
Jika negara-negara gagal mencapai kesepakatan, Tedros memperingatkan bahwa dunia akan kembali ke kondisi sebelumnya tanpa sistem PABS dan tanpa implementasi nyata dari perjanjian pandemi.
Artinya, dunia tetap rentan menghadapi pandemi berikutnya tanpa koordinasi global yang kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com