INDOZONE.ID - Di tengah meluasnya konflik yang telah melibatkan serangan darat di Lebanon dan gangguan pada jalur pelayaran global, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu angkat bicara mengenai durasi perang.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa perang melawan Iran akan berlangsung cepat dan tidak akan berlarut-larut seperti konflik-konflik sebelumnya di kawasan.
"Saya katakan ini bisa cepat dan menentukan. Mungkin butuh beberapa waktu, tapi tidak akan bertahun-tahun. Ini bukan perang tanpa akhir," ujar Netanyahu dalam wawancara dengan program "Hannity" di Fox News, Senin (2/3/2026) waktu setempat.
Pernyataan ini muncul saat konflik yang dipicu serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu lalu terus meluas.
Baca juga: Iran Gelar Pemakaman Massal 165 Siswi Korban Serangan Bom Amerika-Israel
Militer Israel mengonfirmasi telah mengirim lebih banyak pasukan ke Lebanon selatan dalam apa yang disebut sebagai "pertahanan maju".
Serangan juga dilancarkan ke kompleks penyiar negara Iran, IRIB, di Tehran dan target-target Hizbullah di Lebanon.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump yang awalnya memproyeksikan perang akan berlangsung empat hingga lima pekan, kini mulai membuka peluang untuk operasi yang lebih luas.
Namun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa "hantaman terberat masih akan datang dari militer AS".
Baca juga: Ada Ruam Kemerahan di Leher Donald Trump saat Upacara Medal of Honor, Sakit Apa?
Dampak Global Semakin Meluas
Di luar medan tempur, dampak perang sudah terasa nyata di seluruh dunia. Jutaan warga sipil dan pelaku industri merasakan getahnya.
Bandara-bandara utama Teluk, termasuk Bandara Internasional Dubai yang biasanya melayani lebih dari 1.000 penerbangan per hari, masih ditutup untuk hari keempat.
Puluhan ribu penumpang terlantar di berbagai bandara.
Sementara itu, Selat Hormuz, jalur vital seperlima perdagangan minyak dunia, praktis lumpuh setelah Iran menargetkan kapal-kapal yang melintas.
Tarif pengiriman kapal supertanker di Timur Tengah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Dari sisi warga sipil, ratusan orang tewas di Iran, Israel, Lebanon, dan negara lainnya sejak konflik dimulai.
Baca juga: 40 Negara Mulai Rasakan Dampak dari Krisis yang Terjadi di Selat Hormuz
Enam personel militer AS juga tewas dalam serangan balasan Iran di Kuwait.
Ketegangan juga mencapai level baru setelah dua drone yang diduga dari Iran menghantam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, Selasa dini hari.
Serangan ini menyebabkan kerusakan ringan dan kebakaran terbatas.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menghancurkan gedung komando utama pangkalan udara AS di Bahrain dalam operasi yang disebut "Janji Kebenaran 4".
Di tengah eskalasi ini, Rubio menegaskan AS saat ini tidak memposisikan diri untuk operasi darat di Iran, namun Presiden Trump tidak akan mengesampingkan opsi apa pun.
Baca juga: Warganya Tewas di Teheran, China Serukan Gencatan Senjata di Timur Tengah
Sementara itu, proses suksesi kepemimpinan di Iran mulai berjalan.
Seorang anggota Majelis Ahli Iran menyatakan bahwa pemilihan pengganti Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan "tak akan memakan waktu lama".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters