Trump Ultimatum Iran agar Capai Kesepakatan Nuklir dalam 10 Hari: Jika Tidak, Hal Buruk Akan Terjadi
INDOZONE.ID - Ketegangan baru meletus di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran.
Ia memberi waktu sekitar 10 hingga 15 hari kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.
Peringatan ini disampaikan di tengah pengiriman besar-besaran aset militer AS ke kawasan tersebut, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala lebih luas.
"Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ujar Trump dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington, Kamis (19/2/2026).
Ia menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir demi terciptanya perdamaian di Timur Tengah.
Baca juga: Tekanan Global Tak Berpengaruh, Israel Terus Lanjutkan Kebijakan Anti-Palestina
"Kita akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan," tambahnya saat ditanya awak media.
Ancaman Balasan Iran dan Kekhawatiran Perang Terbuka
Teheran langsung bereaksi keras. Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Iran menyatakan tidak akan memulai perang, tapi akan merespons secara tegas dan proporsional jika diserang.
"Semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan akan menjadi target sah," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Iran memperingatkan AS akan bertanggung jawab penuh atas konsekuensi yang tidak terkendali.
Ancaman ini memicu kenaikan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran internasional.
Baca juga: Laporan PBB: Israel dan Hamas Sama-Sama Lakukan Kejahatan Kekejaman di Gaza
Rusia, melalui pernyataan resminya, menyerukan semua pihak untuk menahan diri di tengah "eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya" dan penumpukan militer AS di kawasan yang ditargetkan rampung pada pertengahan Maret.
Negosiasi Berjalan, Jarak Masih Jauh
Meski saling ancam, jalur komunikasi ternyata masih terbuka. Negosiator Iran dan AS bertemu pada Selasa lalu.
Menariknya, Trump menyebut pembicaraan berjalan "baik" dan Iran akan memberikan proposal tertulis.
Namun, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengakui masih ada perbedaan pandangan di beberapa isu.
Kesepakatan yang diinginkan AS sangat berat. Washington menuntut Iran menghentikan total pengayaan uranium, melucuti rudal balistik jarak jauh, serta berhenti mendukung kelompok proksi di kawasan.
Baca juga: Hadir di Pertemuan Board of Peace, Donald Trump Puji Presiden Prabowo: Dia adalah Pria Tangguh
Iran dengan tegas menolak, menyatakan isu di luar program nuklir adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Di tengah ketegangan, satelit memotret aktivitas Iran memulihkan dan memperkuat situs nuklir serta rudalnya.
Di sisi lain, pangkalan-pangkalan AS di kawasan juga menunjukkan peningkatan kesiapsiagaan.
Rusia bahkan mengirim korvet untuk bergabung dalam latihan angkatan laut Iran di Teluk Oman, jalur vital energi dunia.
Baca juga: Toksin Katak Beracun di Balik Upaya Pembunuhan Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny
Polandia pun menjadi negara Eropa terbaru yang mengimbau warganya meninggalkan Iran.
Situasi kini berada dalam masa kritis 10-15 hari ke depan.
Dunia menanti apakah diplomasi mampu meredam ambisi dan kecurigaan, atau justru akan terbuka babak baru konflik berdarah di Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters