Ilustrasi AS vs Iran (sumber: geminiAI)
INDOZONE.ID - Di tengah ketegangan yang memanas, Iran memberi sinyal baru soal negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat.
Dalam wawancara eksklusif dengan BBC di Tehran, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan negaranya siap mempertimbangkan kompromi untuk mencapai kesepakatan, asalkan AS juga serius dan bersedia mencabut sanksi.
"Bola sekarang di lapangan Amerika untuk membuktikan mereka mau membuat kesepakatan," tegasnya.
Baca juga: AS-Israel Satu Suara: Iran Harus Ditekan, Jual Minyak ke Cina Dikurangi
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari AS.
Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika kesepakatan nuklir baru tidak tercapai, sambil terus membangun kehadiran militer di kawasan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan dengan Iran "sangat sulit".
Meski begitu, pembicaraan tidak langsung melalui mediator Oman bulan ini disebut berjalan "kurang lebih ke arah positif" oleh Takht-Ravanchi, dan putaran kedua dijadwalkan di Jenewa pada Selasa (17/2).
Iran memberi sinyal konkret soal kemauan berkompromi, salah satunya dengan menawarkan untuk mengencerkan uranium yang diperkaya hingga 60%—level yang mendekati senjata nuklir dan memicu kecurigaan Barat.
Baca juga: Gaza Panas Lagi! Israel Serang Balas, 11 Warga Tewas Termasuk di Tenda Pengungsi
"Kami siap membahas ini dan isu lain terkait program kami jika mereka siap bicara soal sanksi," ujar Takht-Ravanchi.
Namun, ia belum mau merinci apakah semua sanksi akan dicabut atau hanya sebagian.
Pernyataan paling mencolok dari wawancara ini adalah klaim Takht-Ravanchi bahwa tuntutan AS agar Iran menghentikan total pengayaan uranium (zero enrichment) "sudah tidak relevan dan tidak lagi di atas meja".
Pernyataan ini kontras dengan komentar Trump pada Jumat (13/2) yang masih menegaskan "kami tidak ingin ada pengayaan sama sekali". Ini menunjukkan kesenjangan besar yang masih harus dijembatani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC