INDOZONE.ID - Pemerintah Inggris dan sejumlah sekutu Eropa baru-baru ini mengungkapkan temuan mengejutkan terkait kematian tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, dua tahun lalu.
Mereka mendeteksi adanya racun langka yang hanya ditemukan pada kulit katak panah beracun asal Amerika Selatan di dalam tubuh Navalny.
Kantor Luar Negeri Inggris menyatakan bahwa jejur racun mematikan bernama epibatidine ditemukan dalam sampel tubuh Navalny.
Racun inilah yang sangat mungkin menyebabkan kematiannya di sebuah koloni hukuman Siberia pada Februari 2024.
Dalam pernyataannya, negara-negara sekutu menegaskan bahwa hanya negara Rusia yang memiliki "cara, motif, dan kesempatan" untuk menggunakan toksin mematikan ini.
Baca juga: 924 Orang Tewas Dibunuh Polisi Punjab Pakistan dalam 8 Bulan, Apa yang Terjadi?
Epibatidine adalah neurotoksin alami yang diisolasi dari kulit katak panah beracun asal Ekuador.
Menurut ahli toksikologi Jill Johnson, racun ini 200 kali lebih kuat daripada morfin.
Senyawa ini bisa ditemukan secara alami pada katak liar di Amerika Selatan, namun juga dapat diproduksi secara sintetis di laboratorium.
Menariknya, katak panah yang dipelihara di penangkaran tidak menghasilkan racun ini. Epibatidine juga tidak ditemukan secara alami di Rusia.
Spesies katak seperti Anthony's poison arrow frog dan Phantasmal poison frog adalah yang diketahui mengeluarkan racun ini melalui kulit mereka.
Baca juga: Ruang Server Masjid Istiqlal Terbakar Saat Salat Tarawih Ramadan Perdana Semalam
Meski sempat diteliti sebagai obat penghilang rasa sakit, epibatidine tidak pernah digunakan secara klinis karena tingkat toksisitasnya yang sangat tinggi.
Epibatidine bekerja dengan cara menyerang sistem saraf. Senyawa ini merangsang berlebihan reseptor nikotinik di saraf.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC