Kamis, 19 FEBRUARI 2026 • 08:55 WIB

Perundingan Damai Ukraina-Rusia di Jenewa Buntu, Zelensky Tuding Rusia Sengaja Perpanjang Perang

Author

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Ankara, Turki, 19 November 2025. (Reuters/Umit Bektas)

INDOZONE.ID - Perundingan damai antara Ukraina dan Rusia yang berlangsung di Jenewa, Swiss, berakhir secara tiba-tiba pada Rabu (18/2/2026) setelah hanya berjalan sekitar dua jam. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut pembahasan hari sebelumnya berjalan "sulit" dan menuduh Rusia sengaja menunda-nunda negosiasi untuk mengulur waktu, bukannya mencari kesepakatan.

"Pertemuan kemarin memang sulit, dan kami dapat menyatakan bahwa Rusia mencoba menyeret negosiasi yang sebenarnya sudah bisa mencapai tahap akhir," tulis Zelensky di platform X, Rabu (18/2/2026).

Perundingan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) ini memasuki hari kedua di tengah tekanan besar dari Presiden AS Donald Trump. 

Baca juga: Bos Meta Mark Zuckerberg Jalani Sidang Perdana Kasus Kecanduan Media Sosial Anak Muda

Beberapa hari terakhir, Trump berulang kali menyiratkan bahwa Ukraina-lah yang harus mengambil langkah lebih untuk memastikan perundingan sukses.

AS Dinilai Tidak Adil, Referendum Wilayah Ditolak

Dalam wawancara dengan situs Axios yang terbit Selasa (17/2/2026), Zelensky mengkritik sikap Trump. 

Ia menilai "tidak adil" jika Trump terus-menerus mendesak Ukraina, bukan Rusia, untuk membuat konsesi. 

Zelensky juga menegaskan bahwa rencana damai apa pun yang mengharuskan Ukraina menyerahkan wilayah yang belum direbut Rusia di kawasan Donbas timur, akan ditolak mentah-mentah oleh rakyatnya jika dimasukkan dalam referendum.

Baca juga: Ramadan di Gaza Dimulai di Tengah Kelangkaan Pangan dan Serangan Israel

"Saya harap ini hanya taktiknya, dan bukan keputusan akhir," ujar Zelensky menanggapi pernyataan Trump.

Sebelumnya, pada Senin (16/2/2026), Trump mengatakan kepada wartawan, "Ukraina sebaiknya segera datang ke meja perundingan. Hanya itu yang saya katakan."

Enam Jam Perundingan Tegang, Tak Ada Terobosan

Sumber dari kantor berita Rusia, RIA, mengutip sumber yang menyebut pembahasan pada hari Selasa berlangsung "sangat tegang" dan berlangsung selama enam jam dalam berbagai format bilateral dan trilateral. 

Baca juga: Hamas Desak Board of Peace Hentikan Pembunuhan Israel di Gaza

Kepala delegasi Ukraina, Rustem Umerov, hanya mengatakan bahwa pembicaraan hari pertama fokus pada "isu-isu praktis dan mekanisme kemungkinan keputusan" tanpa memberikan rincian.

Namun, tak lama setelah pernyataan Zelensky, juru runding utama Rusia, Vladimir Medinsky, mengonfirmasi perundingan hari itu telah usai. 

Ia mengatakan kepada wartawan di lobi hotel tempat perundingan bahwa negosiasi lebih lanjut akan segera diadakan, tanpa menyebutkan tanggal pastinya. 

Seorang pejabat Ukraina membenarkan perundingan hari itu hanya berlangsung sekitar dua jam.

Baca juga: AS dan Iran Kian Dekat ke Kesepakatan Nuklir Usai Perundingan di Jenewa

Pasar Bereaksi, Pasokan Listrik Ukraina Kian Kritis

Kebuntuan di meja perundingan langsung mempengaruhi pasar keuangan. 

Obligasi pemerintah Ukraina dilaporkan jatuh hingga 1,9 sen dolar dalam perdagangan pagi di Eropa.

Perundingan di Jenewa ini merupakan lanjutan dari dua putaran pembicaraan yang dimediasi AS di Abu Dhabi. Semuanya berakhir tanpa terobosan berarti. 

Kedua pihak masih terpaut jauh pada isu-isu kunci, terutama penguasaan wilayah timur Ukraina. 

Rusia saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Krimea dan sebagian Donbas yang direbut bahkan sebelum invasi skala penuh 2022.

Baca juga: Negosiasi Nuklir AS-Iran di Jenewa: Jadi Diplomasi Terakhir di Ambang Perang Besar?

Situasi kemanusiaan di Ukraina juga kian memprihatinkan. 

Serangan udara Rusia baru-baru ini pada infrastruktur energi membuat ratusan ribu warga Ukraina tanpa pemanas dan listrik di tengah musim dingin yang keras.

Perundingan yang buntu ini terjadi hanya beberapa hari menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia. 

Konflik yang telah menewaskan ratusan ribu orang, membuat jutaan lainnya mengungsi, dan menghancurkan kota-kota di Ukraina itu belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU