Selasa, 25 NOVEMBER 2025 • 08:40 WIB

Presiden Korea Selatan Peringatkan Risiko Bentrokan Tak Sengaja dengan Korut

Author

Sebuah desa dan pos penjagaan Korea Utara di sisi utara DMZ terlihat dari Observatorium Unifikasi Odusan di Paju, Korea Selatan, pada 21 Juni 2024. (Korea JoongAng Daily)

INDOZONE.ID - Presiden Korsel Lee Jae Myung, kembali mengingatkan publik mengenai risiko bentrokan Korea Selatan dan Korea Utara yang semakin meningkat. 

Peringatan ini muncul karena Pyongyang memutus total jalur komunikasi, membuat hubungan kedua negara kembali berada dalam kondisi yang sensitif.

Dalam perjalanan pulang dari Afrika Selatan menuju Turki usai menghadiri KTT G20, Lee mengatakan bahwa kondisi hubungan antar-Korea saat ini berada pada titik yang “sangat bermusuhan dan konfrontatif”. 

Situasi ini bahkan dinilai sebagai fase paling serius dalam beberapa tahun terakhir, menandakan bahwa ketegangan Korea Utara dan Korea Selatan terkini sudah melewati batas kewajaran.

Sejak menjabat pada Juni lalu, Lee mencoba meredakan konflik dengan menawarkan dialog tanpa syarat, sebuah pendekatan yang berbeda dari pemerintahan konservatif sebelumnya. 

Baca juga:  3 Pekerja Dilarikan ke Rumah Sakit akibat Kebocoran Gas Beracun di Pabrik Baja Korsel

Namun, Korea Utara belum memberikan tanggapan apa pun terhadap ajakan tersebut.

“Kita tidak memiliki tingkat kepercayaan dasar,” ujar Lee. 

Ia juga menyebut bahwa Pyongyang terus mengeluarkan pernyataan keras dan melakukan langkah-langkah ekstrem, termasuk pemasangan kawat berduri berlapis tiga di sepanjang perbatasan.

Lee menilai keadaan saat ini sebagai fase yang sangat berbahaya. 

“Kita tidak tahu kapan bentrokan tak sengaja dapat terjadi,” tegasnya. 

Peringatan tersebut bukan sekadar imbauan biasa, melainkan bentuk antisipasi terhadap kemungkinan peringatan bentrokan militer di Semenanjung Korea jika kondisi terus dibiarkan tanpa komunikasi.

“Semua jalur komunikasi telah diputus. Mereka menolak semua bentuk dialog dan kontak. Ini situasi yang berisiko tinggi,” lanjutnya.

Baca juga:  Gangguan di Tengah Laut, Ratusan Penumpang Feri di Korsel Berhasil Dievakuasi

Meski situasi memanas, Lee menegaskan bahwa Seoul tetap membuka ruang komunikasi kapan saja. 

Kita berdialog dengan banyak negara lain, lalu mengapa tidak dengan Korea Utara? Kini saatnya saling bertukar pandangan. Kami mendukung normalisasi hubungan,” ujarnya.

Pemerintah Korea Selatan baru-baru ini mengusulkan pembicaraan militer untuk mencegah insiden di kawasan perbatasan yang menjadi tawaran pertama dalam tujuh tahun terakhir. 

Namun, Korea Utara justru merespons dengan kecaman keras terhadap kesepakatan Seoul-Washington mengenai pembangunan kapal selam bertenaga nuklir.

Pyongyang menilai kerja sama tersebut berpotensi memicu “efek domino nuklir” dan menganggapnya sebagai bukti niat konfrontatif kedua negara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Korea JoongAng Daily

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU