INDOZONE.ID - Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah serangkaian insiden bersenjata.
Di tengah situasi yang mengarah pada eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan, dengan mengklaim berhasil mempertahankan gencatan senjata yang hampir runtuh.
Klaim ini kembali menyoroti konflik perbatasan Thailand-Kamboja yang sudah berlangsung lama serta peran AS dalam konflik Thailand-Kamboja.
Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa dirinya berhasil menjaga kesepakatan damai antara Kamboja dan Thailand yang nyaris pecah.
Dalam pernyataannya di atas Air Force One, Trump menyebut bahwa klaim mempertahankan gencatan senjata didasarkan pada komunikasi langsung dengan para pemimpin kedua negara.
Baca juga: Kesepakatan Trump dan Korea Selatan Tertunda karena Isu Kapal Selam Nuklir
Trump juga menegaskan bahwa kebijakan tarif tinggi AS memberi leverage penting dalam diplomasi. Ia merasa tekanan ekonomi tersebut membantu mencegah konflik meningkat. “Mereka sekarang baik-baik saja. Sebelumnya tidak,” ucapnya.
Gencatan senjata yang diperbarui bulan lalu tiba-tiba terancam setelah terjadi insiden penembakan di wilayah perbatasan.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet melaporkan satu warga sipil tewas dan tiga orang terluka akibat tembakan yang diduga berasal dari tentara Thailand di kawasan Prey Chan, Banteay Meanchey.
Sementara itu, militer Thailand menyebut peristiwa itu berawal dari tembakan yang dilepaskan pasukan Kamboja ke wilayah Sa Kaeo.
Insiden ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa konflik perbatasan Thailand-Kamboja bisa kembali pecah kapan saja.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mematuhi kesepakatan jika Kamboja tidak mengakui adanya pelanggaran dan meminta maaf.
Ia mengatakan bahwa Thailand memiliki hak mengambil langkah apa pun demi menjaga kedaulatan dan melindungi warga negaranya.
Baca juga: Wali Kota Muslim Pertama New York Zohran Mamdani Ingin Tepati Janji hingga Kalahkan Donald Trump
Melalui unggahan di Facebook, Anutin menyampaikan bahwa dirinya telah meminta bantuan Trump dan PM Malaysia Anwar Ibrahim, untuk mendesak Hun Manet agar mengikuti kesepakatan dan tidak turut campur dalam proses pembersihan ranjau.
Hun Manet merespons dengan menegaskan bahwa Kamboja tetap berkomitmen menjalankan gencatan senjata yang telah disepakati. Ia berharap kedua negara dapat menjaga stabilitas dan bekerja sama sesuai mekanisme yang berlaku.
Malaysia, yang berperan sebagai mediator, menyebut kedua negara telah menyepakati untuk tetap menggunakan jalur diplomasi sebagai solusi paling efektif.
PM Anwar Ibrahim menulis di X bahwa Bangkok dan Phnom Penh siap kembali ke meja dialog untuk menghindari pertumpahan darah baru.
Meski gencatan senjata terus dipertahankan termasuk melalui peran AS dalam konflik Thailand-Kamboja, akar persoalan utama belum tersentuh.
Sengketa batas wilayah yang berlandaskan peta kolonial Prancis tahun 1907 masih menjadi sumber ketegangan.
Konflik ini bahkan sempat menimbulkan bentrokan besar pada akhir Juli, menewaskan puluhan tentara dan warga sipil.
Walau intervensi AS dan dorongan diplomatik dari Malaysia membantu meredakan situasi, konflik perbatasan Thailand-Kamboja tetap berada pada kondisi rentan.
Selama perbedaan tafsir batas wilayah tidak terselesaikan, klaim Trump mempertahankan gencatan senjata hanya mampu meredam konflik sementara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washingtonpost.com