Presiden AS Donald Trump. (Vincent Thian/Pool via REUTERS)
INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, punya jadwal sibuk pada Kamis (30/10/2025) waktu Busan, Korea Selatan.
Ia diagendakan bertemu Presiden Cina, Xi Jinping. Mereka akan membahas ketegangan perang dagang yang terjadi beberapa waktu terakhir antara kedua negara.
Namun, sejam sebelum pertemuan itu, Trump membuat kabar mengejutkan. Ia memerintahkan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat untuk memulai uji coba nuklir.
Ia membuat postingan di akun sosial medianya: "Karena negara-negara lain melakukan uji coba, saya perintahkan Departemen pertahanan untuk memulai uji coba nuklir."
Keputusan itu cukup mengejutkan. Amerika terakhir kali melakukan uji coba nuklir tahun 1992. Di bulan Oktober tahun yang sama Presiden saat itu, George H.W. Bush, meneken moratorium uji coba nuklir sukarela.
Baca juga: Banjir Besar di Vietnam Tengah Tewaskan 9 Orang, Ribuan Rumah Terendam
Perintah Trump berlaku efektif saat itu juga. Ia menegaskan dominasi Amerika dalam kepemilikan hulu ledak nuklir.
"Amerika Serikat punya lebih banyak senjata nuklir dibanding negara mana pun," tegasya.
Rusia berada di posisi kedua, sementara China di urutan ketiga. Di pekan ini, Presiden Rusia, Vladimir Putin, lebih dulu mengumumkan uji coba drone nuklir bawa laut mereka yang disebut Poseidon.
Drone tersebut diklaim mampu menjangkau pesisir Amerika bila diluncurkan dari Rusia. Putin mengatakan tidak ada yang bisa menghentikan Poseidon.
Amerika dan Rusia terikat perjanjian pasca-Perang Dingin. Isinya, masing-masing negara hanya boleh paling banyak mengembangkan 1.550 hulu ledak nuklir.
Baca juga: Ratusan Ribu Warga Dievakuasi Saat Badai Melissa Hantam Kuba Timur
Di sisi lain, Cina melakukan pengembangan nuklir dengan pesat. Mereka punya 200 hulu ledak nuklir pada 2020. Angkanya melonjak menjadi 3 kali lipat pada 2025.
Amerika khawatir jumlahnya bisa menyamai batas yang mereka dan Rusia sepakati. Situasi saat ini memunculkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan perlombaan senjata yang terjadi pada Perang Dingin terulang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bussinesinsider.com, Abcnews.go.com