Sabtu, 18 OKTOBER 2025 • 14:05 WIB

Krisis Pemerintah AS Terancam Ganggu Operasional Nuklir, Ribuan Pegawai Bisa Dirumahkan

Author

Ketua DPR AS Mike Johnson (R–Louisiana) bersama Andrew Garbarino (R–New York) menjawab pertanyaan dalam konferensi pers di Gedung Capitol, Washington, pada hari ke-16 penutupan pemerintahan, Kamis,16 Oktober 2025. (Reuters/Toby Melville)

INDOZONE.ID - Krisis pemerintah AS tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Penutupan sebagian operasional pemerintahan atau government shutdown yang sudah berlangsung lebih dari tiga minggu kini mulai menimbulkan dampak serius terhadap sektor pertahanan, termasuk operasional nuklir negara itu.

Ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, Mike Rogers, memperingatkan bahwa Badan Keamanan Nuklir Nasional (NNSA) atau lembaga yang mengawasi seluruh sistem dan persenjataan nuklir AS sudah hampir kehabisan dana cadangan. Jika tidak segera ada solusi, hingga 80 persen pegawai nuklir AS bisa dirumahkan.

Ini bukan jenis pegawai yang bisa kita biarkan pulang begitu saja. Mereka mengelola aset strategis yang sangat penting bagi keamanan nasional,” ujar Rogers pada Jumat (17/10/2025).

Baca juga: Indonesia Jadi Tuan Rumah Latihan Militer Internasional yang Dipimpin Amerika Serikat

Situasi politik yang buntu membuat krisis anggaran AS ancam operasional nuklir secara langsung. Kongres hingga kini masih gagal menyetujui rancangan anggaran baru yang bisa mengakhiri penutupan pemerintahan. 

Pada Kamis (16/10), Senat bahkan untuk kesepuluh kalinya menolak usulan Partai Republik untuk membuka kembali layanan publik.

Belum jelas apakah ancaman penghentian kerja itu bersifat sementara atau permanen, namun dampak government shutdown AS pada nuklir bisa sangat besar. 

Baca juga: Shutdown Pemerintah AS: Dampak dan Realita di Balik Ketidakpastian Anggaran

Departemen Energi AS mengawasi sekitar 2.000 pegawai pemerintah dan lebih dari 60.000 kontraktor yang berperan dalam perancangan, pemeliharaan, hingga pengamanan seluruh persenjataan nuklir negara tersebut.

Menteri Energi AS, Chris Wright, juga memperingatkan bahwa puluhan ribu staf penting di lembaganya mungkin harus berhenti bekerja mulai minggu depan. 

Dalam wawancara dengan USA Today, ia menyebut para pegawai telah diberitahu bahwa cuti tanpa bayaran atau furlough dapat dimulai paling cepat hari Jumat.

Mereka ini orang-orang yang memastikan sistem nuklir kita tetap aman dan stabil. Setiap gangguan dalam pekerjaan mereka bisa membawa konsekuensi besar bagi keamanan nasional,” tegas Wright.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa krisis pemerintah AS pada operasional nuklir bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi keamanan global, jika para ahli dan teknisi nuklir tidak lagi bisa menjalankan tugas mereka dengan baik.

Menurut Bulletin of the Atomic Scientists, Amerika Serikat saat ini memiliki sekitar 5.177 hulu ledak nuklir, dengan sekitar 1.770 di antaranya aktif dan siap digunakan. 

NNSA bertanggung jawab penuh atas desain, produksi, dan pemeliharaan senjata-senjata tersebut. Tugas mereka dianggap vital untuk menjaga stabilitas strategis dan pertahanan nasional AS.

Namun, dengan anggaran yang hampir habis, lembaga ini mungkin tidak lagi mampu mempertahankan kegiatan operasional secara penuh.

Tekanan semakin meningkat agar Kongres segera mencapai kesepakatan sebelum kegiatan penting di sektor pertahanan dan energi benar-benar lumpuh.

Sementara itu, pasar keuangan AS juga mulai terguncang akibat ketidakpastian politik ini. Indeks saham di Wall Street melemah, terutama di sektor keuangan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi negara tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Latimes.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU