INDOZONE.ID - Ketegangan panjang terkait program nuklir tampaknya mulai menunjukkan tanda-tanda pelunakan. Dalam forum PBB, baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama memberi sinyal adanya ruang untuk kembali berdialog.
Situasi ini memunculkan harapan bahwa ketegangan nuklir Iran dan AS mereda, meski jalan menuju kesepakatan masih penuh tantangan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan di hadapan Sidang Umum PBB bahwa negaranya tidak akan pernah berusaha membangun bom nuklir. Ia menekankan bahwa program nuklir Iran hanya untuk tujuan damai.
Baca juga: Australia Tepis Klaim Israel soal Pengusiran Duta Besar Iran
Tak lama setelah pernyataan tersebut, utusan Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, juga menyatakan keterbukaan untuk melanjutkan dialog. Menurutnya, tugas diplomasi adalah mencari solusi, bukan menambah konflik.
Isyarat ini menumbuhkan peluang damai Iran-Amerika Serikat setelah sekian lama hubungan kedua negara dirundung ketegangan.
Sebelum pecahnya perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, Washington dan Teheran sebenarnya sudah menggelar lima putaran perundingan nuklir Iran-AS. Namun, pembicaraan itu terhambat oleh isu krusial, yakni pengayaan uranium di wilayah Iran.
Baca juga: Donald Trump Klaim Lokasi Nuklir Iran Hancur, Laporan Intelijen Sebut Masih Bisa Dipulihkan
Barat menuntut penghentian total untuk mencegah potensi penggunaan militer, sementara Iran menilai permintaan itu berlebihan.
Sejak perang terjadi, pembicaraan diplomatik berhenti. Seorang sumber dalam pemerintahan Iran menyebutkan bahwa Teheran telah mengirim sejumlah pesan melalui mediator untuk memulai kembali negosiasi, namun hingga kini belum mendapat respons resmi dari AS.
Situasi semakin rumit dengan langkah Inggris, Prancis, dan Jerman (E3) yang memicu mekanisme “snapback sanctions” pada 28 Agustus lalu. Mekanisme ini memberi tenggat 30 hari yang akan berakhir pada 27 September, untuk memulihkan kembali sanksi PBB terhadap Iran.
Meski begitu, Eropa masih membuka peluang penundaan hingga enam bulan jika Iran bersedia menerima inspeksi nuklir PBB, mengurangi stok uranium yang diperkaya, dan kembali berdialog dengan AS.
Presiden Prancis Emmanuel Macron usai bertemu Menlu Iran menegaskan bahwa masih ada kesempatan untuk mencegah kembalinya sanksi internasional, tetapi waktu semakin sempit. Menurutnya, keputusan kini sepenuhnya ada di tangan Teheran.
Jika sampai 27 September tidak ada kesepakatan, maka seluruh sanksi PBB otomatis berlaku kembali. Dampaknya termasuk larangan ekspor-impor senjata, pembatasan aktivitas nuklir, hingga pembekuan aset dan larangan perjalanan bagi sejumlah pejabat serta entitas Iran.
Padahal, ekonomi Iran saat ini sudah terpukul berat akibat sanksi AS sejak 2018, ketika pemerintahan Trump menarik diri dari perjanjian nuklir (JCPOA). Kembalinya sanksi global jelas akan memperparah kondisi tersebut.
Meski ada pernyataan damai dari kedua belah pihak, para diplomat menilai peluang keberhasilan negosiasi masih tipis.
Ketidakpercayaan yang menumpuk, ancaman sanksi, serta tekanan politik domestik membuat Iran dan AS harus bekerja ekstra keras jika benar-benar ingin mengakhiri kebuntuan ini.
Situasi ini menjadi sorotan penting dalam hubungan Iran-AS terbaru, karena akan menentukan arah diplomasi, stabilitas Timur Tengah, dan masa depan kesepakatan nuklir internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters