INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali membuat pernyataan tegas terkait serangan militer terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa seluruh lokasi nuklir Iran telah "dihancurkan total" dalam serangan udara pada 22 Juni lalu.
Namun, sejumlah laporan intelijen menunjukkan hal yang berbeda, yakni beberapa fasilitas nuklir Iran ternyata masih bisa dipulihkan dan berpotensi aktif kembali dalam waktu dekat.
Lewat unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump mengklaim bahwa ketiga situs nuklir utama Iran telah "sepenuhnya dihancurkan dan/atau dimusnahkan."
Baca juga: Trump Lagi-Lagi Bikin Heboh Gegara Komentari Kandungan Gula di Coca-Cola, Apa Penyebabnya?
Ia juga menambahkan bahwa akan butuh waktu bertahun-tahun bagi Iran untuk membangun kembali infrastruktur tersebut. Menurutnya, jika Iran tetap ingin melanjutkan program nuklirnya, mereka harus memulai dari nol di lokasi yang benar-benar baru.
Serangan udara Amerika Serikat pada 22 Juni lalu menyasar tiga fasilitas penting milik Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Ketiga lokasi tersebut selama ini dianggap sebagai pusat dari program nuklir Iran yang kontroversial. Serangan ini juga berlangsung bersamaan dengan operasi militer Israel yang menargetkan infrastruktur militer dan nuklir lainnya.
Baca juga: Departemen Luar Negeri AS Pecat Ribuan Pegawai di Bawah Kepemimpinan Trump
Washington menyebut aksi ini sebagai upaya mematikan program pengayaan uranium Iran yang selama ini dianggap berpotensi mengarah pada pengembangan senjata nuklir. Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh bahwa programnya bersifat sipil dan tidak ditujukan untuk militer.
Meskipun Trump klaim lokasi nuklir Iran hancur, laporan dari Reuter menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Mengutip lima pejabat AS, laporan tersebut menyatakan bahwa hanya satu dari tiga lokasi yang benar-benar hancur total.
Dua fasilitas lainnya disebut masih dalam kondisi yang bisa diperbaiki dan dapat kembali beroperasi untuk pengayaan uranium dalam beberapa bulan ke depan.
Laporan intelijen nuklir Iran pulih ini menimbulkan keraguan terhadap efektivitas serangan AS dan Israel. Bahkan, Pentagon disebut sempat mengusulkan opsi serangan yang lebih besar dan berkelanjutan selama beberapa minggu.
Namun, Trump menolak opsi itu karena khawatir akan jatuhnya korban jiwa dan meningkatnya ketegangan yang bisa memicu perang lebih luas.
Perbedaan narasi AS dan Iran soal nuklir semakin mencolok. Sementara Trump menyebut serangan ini sebagai pukulan mematikan terhadap program nuklir Iran, pihak Iran menganggapnya sebagai agresi yang gagal menonaktifkan infrastruktur utama mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters