INDOZONE.ID - Perdana Menteri Hongaria yang berhaluan kanan, Viktor Orban, menyatakan bahwa Rusia telah memenangkan perang di Ukraina.
Pernyataan tersebut ia sampaikan pada Selasa (12/8/2025), hanya beberapa hari sebelum pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (15/8/2025).
Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan Dagang dengan China Selama 90 Hari, Tarif Tinggi Sementara Ditunda
Sejak memimpin Hongaria pada 2010, Orban kerap menuai kritik dari para pemimpin Eropa. Kritik itu muncul karena hubungan dekatnya dengan Rusia dan sikapnya yang menolak bantuan militer untuk Ukraina.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintahannya kini juga tengah berjuang memulihkan perekonomian dari dampak inflasi tinggi.
Hubungan Dekat Orban dan Putin
Meski Rusia melakukan invasi ke Ukraina pada Februari 2022, Orban tetap mempertahankan hubungan yang dekat dengan Putin.
Pada Senin (11/8/2025), ia bahkan menjadi satu-satunya pemimpin Uni Eropa yang tidak mendukung pernyataan bersama yang menegaskan hak Ukraina untuk menentukan masa depannya sendiri.
Baca juga: Putin Kecam Serangan AS ke Iran: Tak Ada Alasan yang Membenarkan Tindakan Itu
“Kita berbicara seolah-olah masih terjadi perang terbuka, padahal tidak. Ukraina telah kalah, dan Rusia telah memenangkan perang ini,” ujar Orban.
Menurutnya yang menjadi pertanyaan saat ini adalah kapan dan dalam situasi apa negara-negara Barat yang mendukung Ukraina, akan mengakui kenyataan tersebut, serta apa dampak yang akan timbul setelahnya.
Keanggotaan Ukraina di Uni Eropa
Hongaria yang mengandalkan sebagian besar pasokan energi dari Rusia, menolak mengirim senjata ke Ukraina. Orban juga secara tegas menentang rencana keanggotaan Ukraina di Uni Eropa.
Menurutnya, langkah tersebut akan merugikan petani Hongaria dan mengganggu perekonomian nasional secara keseluruhan.
Baca juga: Trump Berpotensi Bertemu Putin Pekan Depan, Bahas Rencana Perdamaian Ukraina
Ia menambahkan bahwa Eropa telah melewatkan kesempatan untuk bernegosiasi dengan Putin ketika Joe Biden masih menjabat sebagai Presiden AS.
Kini, ia memperingatkan bahwa masa depan Ukraina berisiko ditentukan tanpa melibatkan pihak Eropa sama sekali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters