Selasa, 12 AGUSTUS 2025 • 20:40 WIB

PM Australia Tegur Netanyahu atas Krisis Kemanusiaan di Gaza

Author

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, berbicara pada acara kemenangan Partai Buruh di Sydney, 3 Mei 2025. (REUTERS/Hollie Adams)

INDOZONE.ID - Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, memberikan teguran keras kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait dampak krisis kemanusiaan di Gaza

Menurut Albanese, Netanyahu seperti “menutup mata” terhadap penderitaan warga sipil di wilayah tersebut. 

Pernyataan PM Australia soal Gaza ini disampaikan pada Selasa (12/8/2025), hanya sehari setelah ia mengumumkan bahwa Australia untuk pertama kalinya akan mengakui keberadaan negara Palestina.

Langkah ini akan diresmikan pada Sidang Umum PBB bulan depan, menambah tekanan diplomatik terhadap Israel setelah Prancis, Inggris, dan Kanada mengambil sikap serupa. 

Hubungan Australia-Israel pun memasuki babak baru, dengan keputusan Canberra yang dinilai sebagai sinyal ketidaksepahaman atas kebijakan Tel Aviv di Gaza.

Albanese mengungkapkan, salah satu alasan pengakuan ini adalah keengganan pemerintahan Netanyahu untuk mendengarkan masukan dari negara sekutu. 

Baca juga: Australia akan Akui Negara Palestina di Sidang Umum PBB September 2025

Ia menuturkan, dalam percakapan telepon pada Kamis lalu, Netanyahu kembali menolak mengakui kerugian besar yang dialami warga sipil akibat konflik tersebut.

“Dia kembali menegaskan hal yang sama seperti di publik, yakni menyangkal konsekuensi yang dialami oleh rakyat tak bersalah,” kata Albanese dalam wawancara dengan media setempat.

Australia menetapkan beberapa syarat sebelum memberikan pengakuan resmi kepada negara Palestina. Salah satunya adalah jaminan dari Otoritas Palestina bahwa kelompok militan Hamas tidak akan memiliki peran dalam pemerintahan negara tersebut di masa depan.

Keputusan ini diambil di tengah laporan memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza, termasuk kelaparan dan kekurangan gizi. Israel berencana mengambil kendali militer penuh atas wilayah tersebut, sebuah langkah yang memicu reaksi dunia terhadap Israel.

Sebelumnya, Albanese menghindari penetapan waktu untuk pengakuan negara Palestina, khawatir akan memicu perpecahan di masyarakat Australia yang memiliki komunitas Yahudi dan Muslim cukup besar. Namun, opini publik berubah drastis setelah semakin banyak laporan penderitaan warga Gaza.

Baca juga: Rencana Israel Kendalikan Gaza City Dikecam PBB, Dinilai Berisiko Picu Bencana Baru

Awal bulan ini, puluhan ribu warga memadati Jembatan Pelabuhan Sydney, menuntut bantuan kemanusiaan segera untuk Palestina.

Keputusan ini mencerminkan pergeseran sikap publik di Australia. Mayoritas warga kini menginginkan krisis kemanusiaan di Gaza segera berakhir,” ujar Jessica Genauer, dosen senior Hubungan Internasional di Flinders University.

Sementara itu, Selandia Baru masih mempertimbangkan langkah pengakuan negara Palestina. Sikap ini menuai kritik tajam dari mantan Perdana Menteri Helen Clark, yang menilai langkah tersebut terlalu lambat.

Ini bencana besar, tapi di Selandia Baru kita malah berdebat soal teknis. Kita seharusnya sudah menambahkan suara untuk menghentikan bencana ini,” kata Clark kepada RNZ.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Theaustralian.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU