INDOZONE.ID - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, rencana Israel di Gaza City untuk mengambil alih kendali penuh berpotensi memicu 'bencana baru' dengan dampak luas di kawasan tersebut.
Peringatan ini disampaikan dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB pada Minggu (10/8/2025) waktu setempat, setelah kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui langkah tersebut.
Pertemuan akhir pekan yang jarang digelar ini, akhirnya dilakukan menyusul pengumuman pengendalian Israel atas Gaza yang akan dilakukan melalui operasi militer besar di Gaza City.
Keputusan tersebut memantik gelombang kritik dari berbagai negara.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Miroslav Jenca, menegaskan, jika rencana tersebut dijalankan, Gaza akan menghadapi penderitaan lebih besar, termasuk pengungsian massal, korban jiwa tambahan, dan kerusakan infrastruktur yang parah.
“Ini akan menjadi bencana baru yang berdampak ke seluruh kawasan,” ujarnya di hadapan Dewan Keamanan.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) juga mengungkapkan situasi memprihatinkan di Gaza. Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, sebanyak 98 anak meninggal akibat gizi buruk akut, 37 di antaranya terjadi sejak Juli 2025.
“Kita tidak lagi berbicara soal krisis kelaparan yang mengancam. Ini adalah kelaparan murni,” tegas Direktur Koordinasi OCHA, Ramesh Rajasingham.
Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menyebut rencana Israel di Gaza City sebagai tindakan ilegal dan tidak bermoral.
Ia juga mendesak, agar jurnalis asing diberi akses untuk meliput langsung di Gaza.
Sebelumnya, Netanyahu pada Minggu (10/8/2025) mengumumkan akan mengizinkan lebih banyak wartawan asing masuk ke Gaza, namun tetap dengan pendampingan militer Israel.
Inggris, sekutu dekat Israel yang justru mendorong pertemuan darurat ini, memperingatkan, rencana tersebut hanya akan memperpanjang konflik dan memperdalam penderitaan warga Palestina.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washington Post