Trump Perpanjang Gencatan Dagang dengan China Selama 90 Hari, Tarif Tinggi Sementara Ditunda
INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memperpanjang gencatan dagang dengan China selama 90 hari.
Langkah ini mencegah lonjakan tarif impor yang sebelumnya dijadwalkan berlaku pada pertengahan Agustus, tepat saat para peritel AS bersiap menghadapi musim belanja akhir tahun.
Perintah eksekutif yang ditandatangani pada Senin (11/8/2025) ini, menjadi penanda perang dagang AS-China masih berada di fase negosiasi, bukan eskalasi.
Baca juga: Trump Berpotensi Bertemu Putin Pekan Depan, Bahas Rencana Perdamaian Ukraina
Tanpa perpanjangan ini, tarif barang China ke AS akan melonjak hingga 145 persen. Sedangkan tarif China untuk produk AS, akan naik 125 persen.
Angka tersebut dinilai setara dengan embargo dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Untuk sementara, tarif AS terhadap produk impor dari China tetap pada angka 30 persen. Sementara tarif balasan China berada di 10 persen.
"Kita lihat saja nanti," ujar Trump kepada awak media, sambil menekankan hubungannya yang baik dengan Presiden China Xi Jinping.
Baca juga: Trump Kirim Utusan ke Rusia, AS Ancam Sanksi Baru Jika Perang Ukraina Tak Berakhir
Tarif dagang AS-China yang ditunda ini, memberi ruang bagi masuknya barang-barang seperti elektronik, pakaian, dan mainan ke AS dengan tarif yang lebih rendah, tepat menjelang lonjakan impor musim gugur menuju Natal.
Menurut Wendy Cutler, mantan pejabat senior perdagangan AS, langkah ini merupakan sinyal positif bahwa, kedua negara mencoba mencari kesepakatan yang bisa membuka jalan bagi pertemuan Xi-Trump pada musim gugur.
Trump pada pekan lalu mengungkapkan, kesepakatan dagang sudah 'sangat dekat', dan siap bertemu Xi sebelum akhir tahun jika perjanjian tercapai.
Gencatan dagang ini pertama kali disepakati pada Mei lalu, setelah pembicaraan di Jenewa, Swiss, dengan tenggat waktu 90 hari untuk melanjutkan negosiasi.
Pertemuan lanjutan diadakan di Stockholm pada Juli, di mana delegasi AS merekomendasikan Trump untuk memperpanjang batas waktu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menilai, tarif tinggi yang diberlakukan kedua pihak pada musim semi lalu tidak dapat dipertahankan, dan pada dasarnya menciptakan embargo perdagangan.
Kelly Ann Shaw, mantan pejabat perdagangan Gedung Putih, mengatakan, Trump kemungkinan menekan China untuk memberikan konsesi tambahan sebelum menyetujui perpanjangan ini.
Salah satunya adalah permintaan agar China melipatgandakan pembelian kedelai dari AS, meski para analis meragukan realisasinya.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan impor dari China sempat melonjak di awal tahun untuk menghindari kenaikan tarif. Defisit perdagangan AS dengan China menyusut sekitar sepertiga pada Juni menjadi US $9,5 miliar, atau terendah sejak Februari 2004.
Dalam lima bulan terakhir, selisih perdagangan ini menyempit hingga 70 persen, dibanding tahun sebelumnya.
Selain isu tarif, Washington juga menekan Beijing untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia, dengan ancaman tarif sekunder jika permintaan itu diabaikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nypost.com