Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpidato. (REUTERS/Kevin Lamarque)
INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan secara resmi bahwa ia telah mengirimkan dua kapal selam nuklir milik Amerika Serikat mendekati wilayah Rusia, sebagai respons atas cuitan mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang dianggap sebagai ‘pernyataan yang sangat provokatif’ dan berpotensi memicu konflik.
Cuitan yang memicu ketegangan ini berisi tentang tanggapan Medvedev terhadap sanksi yang dijatuhkan Trump terhadap Rusia atas perang di Ukraina dalam akun X pribadinya. Ia menyebut sanksi yang dijatuhkan trump merupakan ‘ancaman langsung dan langkah menuju perang.”
“Trump bermain-main dengan ultimatum: 50 hari atau 10. ia seharusnya ingat dua hal: Rusia bukan Israel, apalagi Iran. Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang, bukan hanya dengan Ukraina, tapi dengan negaranya sendiri,” tulis Dmitry Medvedev.
“Jangan ikuti jejak Sleepy Joe!” tambahnya, mengacu pada Joe Biden, mantan Presiden Amerika Serikat.
Menanggapi cuitan yang disebut ‘sangat provokatif’ ini, Trump membalas dengan tulisan dalam platform Truth Details bahwa ia telah mengerahkan dua kapal selam nuklir yang diposisikan dalam ‘wilayah yang tepat’.
“Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, Saya telah mengerahkan dua kapal selam nuklir untuk diposisikan di wilayah yang tepat, berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif tersebut bukan sekedar kata-kata,” tulis Trump.
“Perkataan itu sangatlah penting, dan terkadang bisa menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Saya berharap ini bukan salah satu dari situasi tersebut. Terima kasih atas perhatiannya terhadap hal ini!” tambahnya.
Trump juga memberikan jawaban ketika wartawan bertanya tentang masalah tersebut dengan, “Sebuah ancaman telah dibuat oleh mantan Presiden Rusia, dan kami akan melindungi rakyat kami,”
Baca juga: MPR Apresiasi Langkah Presiden Prabowo Subianto Beri Amnesti dan Abolisi
Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, belum secara resmi memberikan tanggapan langsung terhadap ultimatum Trump. Namun, pada hari yang sama, ia menyatakan keinginannya untuk mencapai “perdamaian yang langgeng dan stabil” di Ukraina. Ia juga menambahkan,
“Kita butuh perdamaian yang stabil, yang berdiri di atas fondasi kuat dan dapat menjamin keamanan bagi Rusia maupun Ukraina,” Meskipun begitu, Putin belum menunjukkan tanda-tanda pemberian kelonggaran atau kompromi.
Putin sebelumnya juga menyatakan minatnya terhadap perdamaian dengan Ukraina, namun sayangnya, perundingan damai belum belum mencapai sepakat. Hal ini disebabkan oleh syarat-syarat Rusia yang diberikan ke pihak Kyiv tidak dapat diterima.
Perundingan putaran ketiga juga dilakukan pekan lalu. Namun,perundingan damai kembali gagal dan berakhir tanpa kesepakatan apapun kecuali pertukaran tahanan perang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera