INDOZONE.ID - Pemerintah kota kembali mengeluarkan peringatan banjir di Beijing, yang berlaku untuk seluruh distrik administratif pada Senin (4/8/2025).
Warga diminta tetap berada di dalam rumah dan bersiap menghadapi hujan lebat di Beijing, yang diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa jam ke depan.
Langkah ini diambil hanya sepekan setelah banjir mematikan di Beijing merenggut puluhan korban jiwa dan menjadi bencana banjir di Tiongkok yang paling serius dalam satu dekade terakhir.
Menurut prakiraan cuaca, curah hujan bisa mencapai 200 mm hanya dalam waktu enam jam, yang menjadi angka yang tergolong ekstrem, mengingat rata-rata tahunan curah hujan di Beijing adalah 600 mm.
Baca juga: Banjir Besar Terjang China Barat Daya, Ribuan Warga Mengungsi
Sebagai langkah antisipasi, otoritas memperkuat tanggul-tanggul tua, memperbarui sistem prakiraan cuaca, dan menyiapkan ulang protokol evakuasi.
Upaya ini dilakukan di tengah laporan penemuan korban jiwa di sejumlah lokasi, termasuk di pusat kebugaran alami di Provinsi Hebei.
Sebanyak 44 orang dilaporkan tewas di Beijing pada periode 23 hingga 29 Juli, sebagian besar akibat terjebak luapan air secara tiba-tiba, terutama di sebuah panti jompo di Distrik Miyun yang berada di pinggiran timur laut kota.
Pemerintah kota pun mengakui bahwa masih terdapat kelemahan dalam sistem kesiapsiagaan menghadapi bencana iklim ekstrem seperti ini.
Sejak siang hari, semua distrik di Beijing dinyatakan dalam status siaga tertinggi. Lokasi-lokasi wisata populer seperti bagian Tembok Besar China ditutup sementara, begitu pula dengan berbagai pusat aktivitas di area bawah tanah.
Pemerintah juga mengingatkan bahwa risiko banjir bandang dan tanah longsor berada dalam kategori "sangat tinggi", terutama di kawasan perbukitan dan dataran rendah.
Sebagai catatan, banjir besar yang melanda pada tahun 2012 menewaskan 79 orang. Fangshan menjadi distrik terdampak paling parah, dengan air naik hingga 1,3 meter hanya dalam 10 menit.
Posisi geografis Beijing yang dikelilingi pegunungan di sisi barat dan utara membuatnya kerap menjadi "penampung" uap air, yang menyebabkan intensitas hujan makin tinggi.
Baca juga: Banjir dan Longsor Terjang Korea Selatan, Korban Tewas Bertambah Jadi 11 Orang
Bencana banjir di China tak hanya melanda ibu kota. Di kota Chengde, Provinsi Hebei yang berbatasan langsung dengan Beijing, tiga orang ditemukan tewas dan empat lainnya masih hilang setelah hujan deras melanda kawasan "Lembah Beijing" yang menjadi sebuah destinasi wisata kesehatan yang berada di tepi sungai.
Sekitar 40 orang mengikuti kegiatan luar ruangan pada 27 Juli di lokasi tersebut. Namun saat malam, air naik drastis hingga setinggi lutut dan memaksa peserta berlarian menyelamatkan diri melalui satu-satunya jalur evakuasi.
Tragedi ini mengingatkan pada insiden serupa di Texas, AS, bulan lalu, di mana 28 anak tewas terseret arus saat banjir besar melanda perkemahan mereka.
Sementara itu, di Provinsi Guangdong, lima jenazah ditemukan setelah operasi pencarian selama dua hari. Para korban sebelumnya dilaporkan hilang pada Jumat malam setelah terseret arus deras akibat curah hujan ekstrem.
Lebih dari 1.300 petugas penyelamat dikerahkan dalam pencarian tersebut, yang menambah panjang daftar korban dalam rangkaian bencana banjir di Tiongkok musim ini.
Pemerintah terus mengimbau masyarakat di berbagai daerah agar tidak meremehkan potensi bahaya cuaca ekstrem dan selalu mengikuti arahan resmi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: South China Morning Post