Jumat, 25 JULI 2025 • 14:23 WIB

AS dan Israel Tarik Tim dari Pembicaraan Gencatan Senjata Gaza, Ini Alasannya

Author

Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Suzanne Plunkett)

INDOZONE.ID - Upaya untuk menghentikan perang di Gaza, Palestina, kembali menghadapi jalan buntu. Amerika Serikat (AS) dan Israel tarik tim perunding Gaza dari pembicaraan gencatan senjata pada Kamis 24 Juli 2025.

Penarikan itu terjadi setelah Amerika Serikat menuding Hamas tidak menunjukkan itikad baik selama negosiasi berlangsung.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan bahwa meskipun para mediator telah berusaha keras, Hamas tidak ada itikad baik pada pembicaraan gencatan senjata tersebut. 

Dalam pernyataannya di platform X, Witkoff menulis, “Kami akan mempertimbangkan opsi alternatif untuk memulangkan para sandera dan menciptakan kondisi yang lebih stabil bagi warga Gaza.

Baca juga: 21 Anak Meninggal Akibat Kelaparan, Krisis Kemanusiaan di Gaza Semakin Parah

Hamas merespons tuduhan tersebut dengan menyatakan keterkejutannya, sambil menegaskan posisi mereka dalam negosiasi justru telah membuka peluang tercapainya kesepakatan. 

Kelompok tersebut juga menekankan kesediaannya untuk terus melanjutkan pembicaraan, demi mencapai perjanjian gencatan senjata yang menyeluruh.

"Kami tetap berkomitmen untuk melanjutkan negosiasi dan terlibat dalam dialog yang mampu mengatasi hambatan menuju perjanjian gencatan senjata jangka panjang," demikian pernyataan resmi Hamas pada Jumat dini hari.

Baca juga: 67 Warga Gaza Tewas Ditembak Saat Cari Bantuan, Kelaparan Semakin Parah

Kondisi di meja perundingan mencerminkan, bahwa negosiasi gencatan senjata Gaza buntu. Seorang pejabat senior Hamas mengungkapkan, bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan memang masih ada, tetapi memerlukan waktu beberapa hari karena adanya penundaan dari pihak Israel.

Di sisi lain, pejabat Israel yang terlibat dalam proses menyebut, bahwa tanggapan Hamas atas proposal terbaru tidak memungkinkan kemajuan tanpa adanya kompromi dari pihak kelompok tersebut. 

Media Channel 12 Israel melaporkan, bahwa masih terdapat kesenjangan besar dalam pembahasan, termasuk soal penempatan pasukan militer selama gencatan senjata.

Penarikan tim negosiasi oleh AS dan Israel memperkuat kesan perundingan perdamaian Gaza gagal untuk sementara waktu. Padahal, tekanan internasional terus meningkat untuk mendorong kedua pihak mencapai kesepakatan.

Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa puluhan orang tewas karena kelaparan dalam beberapa minggu terakhir. 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Ronen Zvulun)

Sebanyak dua pasien di Rumah Sakit Shifa bahkan meninggal dunia karena kekurangan makanan setelah sempat menderita penyakit lain.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menggambarkan penderitaan dan kelaparan di Gaza, sebagai bencana kemanusiaan yang “tak terlukiskan dan tak dapat dibenarkan,."

Ia menyerukan kepada Israel agar segera membuka akses bantuan dan mengadakan pertemuan darurat dengan Prancis serta Jerman, untuk membahas langkah nyata menghentikan kekerasan dan menyalurkan bantuan pangan.

Situasi di lapangan juga semakin kacau. Sejumlah perempuan yang datang ke lokasi distribusi bantuan pada Kamis, mengaku disemprot merica dan ditembak gas air mata oleh kontraktor AS.

Saat kami diminta datang, mereka bilang ‘ambil bantuannya’, lalu menyuruh kami mundur dan menyemprot kami. Beberapa menit kemudian, mereka tembakkan gas air mata,” ujar Mervat al-Sakani.

Organisasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF) membenarkan penggunaan semprotan merica secara terbatas, dengan alasan mencegah cedera akibat kerumunan. 

Baca juga: 31 Tentara Israel Tewas Akibat Tembakan Teman Sendiri di Gaza

Namun, PBB mengkritik metode distribusi GHF karena dianggap melanggar prinsip kemanusiaan dan netralitas. Bahkan dalam enam minggu terakhir, lebih dari 875 warga tewas di sekitar titik distribusi bantuan, sebagian besar dekat lokasi GHF.

Perang Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas menyerang Israel dan menewaskan sekitar 1.200 orang serta menyandera 251 lainnya.

Sejak saat itu, Israel melakukan operasi militer besar-besaran yang telah menewaskan hampir 60.000 warga Palestina, menurut otoritas Gaza.

Israel mengklaim telah membuka kembali akses bantuan sejak Mei, tetapi dengan pembatasan ketat untuk mencegah penyalahgunaan oleh Hamas.

Sementara itu, PBB menyatakan telah bekerja semaksimal mungkin dalam kondisi yang serba terbatas akibat kontrol ketat Israel. Hingga kini, perdamaian dalam konflik Palestina dan Israel masih diupayakan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Washington Post

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU