INDOZONE.ID - Korea Utara kembali menjadi sorotan internasional, setelah mengumumkan pelarangan kunjungan turis asing ke salah satu proyek prestisiusnya, yakni resor pantai mewah di Wonsan.
Pengumuman ini datang hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, melakukan kunjungan resmi ke lokasi tersebut.
Proyek pariwisata Wonsan, Korea Utara, telah lama digadang-gadang sebagai simbol kemajuan industri wisata negara tersebut.
Baca juga: Kim Jong-un Pamer Resor Pantai Mewah Korea Utara, Santai di Pinggir Kolam
Kawasan yang dikenal sebagai Wonsan-Kalma Coastal Tourist Zone ini digambarkan media sebagai versi "Waikiki" milik Korea Utara, karena fasilitasnya yang mewah termasuk hotel bertingkat tinggi, taman air, dan daya tampung hingga 20.000 orang.
Namun, meskipun telah dibuka untuk umum pada awal Juli, pemerintah Korea Utara justru melarang turis asing masuk ke resor pantai tersebut.
Dalam pernyataan resmi dari Administrasi Pariwisata Nasional, disebutkan bahwa "turis asing untuk sementara waktu tidak diterima," tanpa menjelaskan alasan lebih lanjut.
Baca juga: Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda Lewat Pengeras Suara ke Korea Utara
Larangan turis asing ke Korut ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap arah kebijakan pariwisata Korea Utara terbaru.
Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un dikenal sangat berambisi membangun sektor pariwisata sebagai salah satu tulang punggung ekonomi negara.
Ia bahkan pernah menyebut pembangunan resor ini sebagai salah satu “pencapaian terbesar tahun ini.”
Resor mewah Wonsan yang dilarang untuk asing ini sebenarnya dirancang untuk menjadi magnet wisata dari luar negeri, termasuk dari Rusia.
Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa rombongan turis asal Rusia akan mengunjungi kawasan ini dalam waktu dekat.
Bahkan, sebelum kunjungan Lavrov, Rusia telah mengumumkan penerbangan rutin dua kali seminggu dari Moskow ke Pyongyang sebagai bagian dari kerja sama bilateral.
Meski Korea Utara larang turis asing ke resor pantai Wonsan, beberapa pengamat menilai hal ini tak lepas dari keterbatasan infrastruktur.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan memperkirakan bahwa skala pariwisata internasional tetap kecil, karena masih minimnya akses penerbangan langsung ke negara tersebut.
Lavrov sendiri menyambut baik proyek pariwisata Wonsan, Korea Utara, dan menyebutnya sebagai destinasi yang menarik baik bagi wisatawan lokal maupun dari Rusia.
Namun, realisasi kunjungan wisatawan asing tampaknya masih menghadapi tantangan besar di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil.
Larangan turis asing ke Korut, terutama ke proyek ambisius seperti resor Wonsan, menunjukkan bahwa meskipun Korea Utara ingin membuka diri lewat pariwisata, kebijakan dalam negerinya masih penuh pertimbangan politik dan keamanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Yonhap News