INDOZONE.ID - Presiden Korea Selatan yang baru dilantik, Lee Jae Myung, langsung menjalankan salah satu janji utamanya, memulihkan perekonomian negaranya tersebut serta memperbaiki hubungan dengan Korea Utara.
Dalam rapat kabinet perdananya pada Kamis (5/6/2025), Lee memfokuskan pembahasan pada penyusunan paket darurat untuk mengatasi krisis ekonomi yang kian melambat dan memberikan bantuan langsung kepada masyarakat yang terdampak.
Langkah cepat ini menunjukkan keseriusan Presiden Korea Selatan fokus pemulihan ekonomi, terutama setelah ia resmi menjabat pada Rabu (4/6/2025), hanya beberapa jam setelah memenangkan pemilu mendadak.
Baca Juga: Lee Jae Myung Resmi Jadi Presiden Baru Korsel, Janjkan Hal-hal Ini!
Pemilu tersebut dipicu oleh kemarahan publik atas pemberlakuan darurat militer singkat oleh presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol, yang akhirnya dimakzulkan.
Kejadian itu sempat mengguncang kestabilan politik dan ekonomi negara.
Dalam pernyataan singkat yang terbuka untuk media, Lee menyampaikan kepada kabinet warisan pemerintahan sementara bahwa tidak ada waktu untuk disia-siakan.
Baca Juga: Janji Calon Presiden Korsel Lee Jae Myung Buka Dialog dengan Korea Utara Lagi
Rakyat tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat, dan pemerintah harus bergerak cepat.
Sebagai bagian dari kebijakan ekonomi Lee Jae Myung untuk Korea Selatan, ia berjanji akan segera menggulirkan stimulus fiskal minimal 30 triliun won (sekitar US $22 miliar).
Langkah ini diambil untuk mendorong pertumbuhan yang kini diperkirakan hanya akan mencapai 0,8 persen, jauh di bawah proyeksi awal bank sentral sebesar 1,5 persen pada Februari lalu.
ia juga mengatakan akan memulai kembali perundingan dengan Pyongyang, dan berjanji untuk “membuka jalur komunikasi dengan Korea Utara dan membangun perdamaian di Semenanjung Korea melalui perundingan dan kerja sama”.
Lee baru menunjuk satu nama untuk mengisi jajaran kabinet, yaitu Kim Min-seok, tokoh senior legislatif dan sekutu politiknya, sebagai calon perdana menteri. Kim menilai kondisi saat ini lebih berat dibanding krisis keuangan Asia tahun 1997.
“Hari ini, ekonomi sedang menurun dan stagnan. Saya rasa, situasinya jauh lebih sulit daripada masa krisis sebelumnya,” ungkap Kim kepada wartawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Yonhap News