Kim Jong Un menangis saat minta ibu-ibu Korea Utara melahirkan banyak anak.
INDOZONE.ID - Presiden Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, sudah lama dikenal sebagai pemimpin diktator paling ditakuti dunia, selain Adolf Hitler.
Namun, baru-baru ini, di depan ribuan perempuan yang hadir dalam acara Pertemuan Ibu Nasional di Pyongyang pada Minggu (3/12/2023), Kim nampak menangis sesegukan dan menyeka air matanya menggunakan sapu tangan putih.
Dalam acara itu, Kim memohon kepada para perempuan yang hadir untuk dapat melahirkan lebih banyak anak. Permohonan ini diajukan Kim lantaran saat ini Korea Utara tengah mengalami krisis kelahiran.
“Ibu-ibu yang saya cintai, mencegah penurunan angka kelahiran dan pengasuhan anak yang baik adalah tugas rumah tangga yang perlu kita tangani,” kata Kim, dikutip The Independent, Sabtu (9/12/2023).
Baca Juga: Jepang Akan Gratiskan Biaya Kuliah untuk Keluarga yang Punya 3 Anak
Berdasar data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada 2023, jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh satu perempuan Korea Utara ada di angka 1,8.
Sedangkan menurut laporan Hyundai Research Institute, tingkat kesuburan Korea Utara mengalami penurunan signifikan, usai bencana kelaparan yang melanda negara itu pada 1990-an.
Selain itu, Korea Utara juga sempat menerapkan program pengendalian kelahiran bayi pada 1970 – 1980 untuk memperlambat populasi setelah Perang Korea.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Korea Utara akan mengalami kesulitan ekonomi, lantaran tidak ada tenga kerja yang cukup.
Baca Juga: 45.000 Peluru Tank Akan Dijual Amerika Serikat kepada Israel untuk Melanjutkan Serangan Gaza
“Negara ini akan menghadapi kesulitan untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan industri manufaktur jika tidak tersedia tenaga kerja yang cukup," tulis laporan lembaga riset asal Korea Selatan itu.
Sementara itu, menurut Kim Jong-un, ada tugaspenting yang harus diselesaikan oleh para perempuan Korea Utara.
Di antaranya, melahirkan dan membesarkan anak sehingga negara dapat meneruskan revolusi, menghilangkan praktik non-sosialis, meningkatkan keharmonisan keluarga dan persatuan nasional sehingga negara dapat membangun cara hidup yang bermoral.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Independent