INDOZONE.ID - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali menegaskan bahwa negaranya akan terus memperkuat kekuatan nuklir secara permanen. Dalam pidatonya di parlemen, ia juga menyebut Korea Selatan sebagai negara paling bermusuhan terhadap Pyongyang.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang Majelis Rakyat Tertinggi atau lembaga legislatif Korea Utara, sebagaimana dilaporkan media pemerintah, Korean Central News Agency, pada Selasa (24/3/2026).
Kim menegaskan bahwa status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat dinegosiasikan maupun dibatalkan dalam kondisi apa pun.
Baca juga: Kim Jong Un Kembali Terpilih Sebagai Presiden Korea Utara, Raih Suara Hampir 100 Persen
Dalam pidatonya, Kim menyebut bahwa penguatan “deterrent nuklir defensif” merupakan hal penting untuk menjaga keamanan nasional, stabilitas kawasan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ia menolak gagasan bahwa pelucutan senjata nuklir bisa ditukar dengan bantuan ekonomi atau jaminan keamanan dari pihak luar. Menurutnya, Korea Utara telah membuktikan bahwa mempertahankan kekuatan nuklir sambil tetap mendorong pembangunan adalah strategi yang tepat.
Kim juga menambahkan bahwa keberadaan senjata nuklir telah berperan mencegah perang, sekaligus memungkinkan negara mengalihkan fokus pada pembangunan ekonomi, proyek infrastruktur, dan peningkatan taraf hidup masyarakat.
Baca juga: AS Longgarkan Sanksi Minyak Rusia 30 Hari, Kecualikan Kuba dan Korea Utara
Kim menuding Amerika Serikat bersama sekutunya sebagai pihak yang memperkeruh situasi di kawasan. Ia menyoroti penempatan aset nuklir strategis di sekitar Semenanjung Korea sebagai faktor yang meningkatkan ketegangan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Korea Utara kini tidak lagi memandang dirinya sebagai negara yang terancam. Sebaliknya, negara tersebut mengklaim memiliki kemampuan untuk memberikan ancaman jika diperlukan.
Dalam bagian paling keras dari pidatonya, Kim secara langsung memperingatkan Korea Selatan. Ia menyatakan bahwa Seoul kini secara resmi dianggap sebagai “negara paling bermusuhan”.
Ia juga menegaskan bahwa setiap upaya yang dianggap melanggar kedaulatan Korea Utara akan dibalas tanpa ampun, tanpa ragu, dan tanpa batasan.
Pernyataan ini mempertegas perubahan sikap Pyongyang dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah meninggalkan kebijakan lama yang mengedepankan reunifikasi damai dengan Korea Selatan.
Pengamat menilai pernyataan Kim merupakan bagian dari sikap yang semakin keras terhadap Seoul. Sebelumnya, Korea Utara telah mengubah pendekatan diplomatiknya dengan memperlakukan Korea Selatan sebagai negara asing yang bermusuhan, bukan lagi sebagai bagian dari satu bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com