Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Kevin Lamarque)
INDOZONE.ID - Iran menyimpan kekhawatiran di tengah gencatan senjata selama dua pekan dengan Amerika Serikat (AS).
Kekhawatiran itu terkait peluang AS memperkuat persenjataan di tengah masa gencatan senjata. Itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, pada Jumat 10 April 2026.
"Kami tidak memerlukan gencatan senjata yang memungkinkan musuh untuk kembali mempersenjatai diri dan melakukan agresi lagi," kata diplomat tersebut, seperti dikutip portal informasi Pemerintah Iran, dilansir dari Antara, Sabtu (11/4/2026).
Majid menegaskan, bahwa Iran amat mendukung diplomasi dan dialog di tengah perang antara negaranya dengan AS-Israel.
Baca juga: Sistem Pemerintahan Iran: Siapa Pemegang Otoritas Tertinggi?
Namun, ia tidak mau masa gencatan senjata justru memberi peluang bagi agresor untuk mempersiapkan diri dalam serangan baru ke wilayah Iran.
Majid menyatakan bahwa, dialog penyelesaian peran yang berujung perdamaian, harus berakar pada 10 poin dari pihak Teheran.
Perang Iran dengan AS-Israel dimulai dengan serangan ke pihak Teheran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Serangan itu turut merenggut nyawa mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Posisi Ali Khamenei pun digantikan oleh putra keduanya, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, yang dipilih oleh Majlis Ahli.
Iran pun tidak tinggal diam atas serangan AS-Israel. Pihak Teheran menyerang Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi perang terjadi sejak 28 Februari, tapi mulai mereda karena gencatan senjata selama dua pekan diberlakukan sejak 7 April 2026. Kini, dunia menunggu hasil diplomasi dan dialog yang diharapkan bermuara pada perdamaian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara