Ilustrasi SPBU Shell di Eropa. (REUTERS/Jack Taylor)
INDOZONE.ID - Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen mengatakan, saat ini harga gas di Eropa telah naik sekitar 70 persen, sementara harga minyak meningkat sekitar 60 persen. Kenaikan ini terjadi sejak pecahnya konflik di Timur Tengah.
"Sejak awal konflik di Timur Tengah terjadi, harga-harga di Uni Eropa mengalami lonjakan 70 persen untuk gas dan 60 persen untuk minyak. Dalam hal finansial, selama 30 hari konflik telah terjadi penambahan 14 miliar euro (sekitar Rp273 triliun) pada tagihan impor bahan bakar fosil Uni Eropa," kata Jorgensen saat konferensi pers, Selasa (31/3/2026), usai mengikuti konferensi video bersama para menteri energi Uni Eropa.
Baca juga: Israel Serang Pabrik Desalinasi Iran, Donald Trump Marah
Sejak awal konflik, tagihan impor bahan bakar fosil Uni Eropa juga telah membengkak hingga 14 miliar euro.
Menurut Jorgensen, koordinasi erat antarnegara anggota sangat diperlukan untuk menghindari kebijakan yang terpecah-pecah serta sinyal yang dapat mengganggu pasar energi.
Jorgensen menambahkan, harga minyak dan gas di Eropa akibat perang antara AS-Israel vs Iran diperkirakan tidak akan kembali normal dalam waktu dekat.
Lebih lanjut katanya, meskipun saat ini tidak ada kekurangan pasokan minyak dan gas secara langsung di 27 negara anggota Uni Eropa, tekanan mulai terasa pada pasokan solar dan bahan bakar pesawat. Selain itu, keterbatasan yang semakin meningkat di pasar gas global turut mendorong kenaikan harga listrik di kawasan tersebut.
Baca juga: Donald Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Negosiasi Gagal
“Yang sangat penting untuk saya tekankan adalah, bahkan jika perdamaian terjadi besok, kita tidak akan kembali ke kondisi normal dalam waktu yang dapat diperkirakan,” ujar Jørgensen dalam konferensi pers usai pertemuan para menteri energi Uni Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Euronews