INDOZONE.ID - Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang lebih berdarah. Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan luas ke berbagai kota di Iran pada Senin (23/3/2026), saat ultimatum 48 jam yang diberikan Presiden Donald Trump untuk membuka Selat Hormuz segera berakhir.
Militer Israel menyatakan telah "memulai gelombang serangan skala luas" terhadap infrastruktur di Teheran. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim menargetkan lokasi produksi mesin turbin di Provinsi Qom, Iran utara-tengah, yang digunakan untuk komponen drone dan pesawat yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, China Peringatkan “Lingkaran Setan”
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Suhaib al-Asa, melaporkan bahwa skala dan intensitas ledakan di ibu kota Iran "belum pernah terjadi sebelumnya", terutama di wilayah timur kota. Sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di bagian tersebut, mengindikasikan respons terhadap drone AS-Israel yang terdeteksi di udara.
Kantor berita Fars melaporkan serangan di Kota Khorramabad, barat Teheran, yang menewaskan seorang anak dan melukai beberapa orang. Sementara itu, setidaknya enam orang dilaporkan tewas akibat serangan di permukiman di Kota Tabriz. Secara keseluruhan, Palang Merah Iran menyebut lebih dari 80.000 unit sipil terdampak, termasuk rumah sakit, sekolah, dan fasilitas pendidikan.
Iran merespons serangan tersebut. Juru bicara markas Khatam al-Anbiya IRGC menyatakan pihaknya menyerang pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi dan Armada Kelima AS di Bahrain menggunakan rudal serta drone. Sirene peringatan dilaporkan berbunyi di Bahrain dan Kuwait. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengklaim telah mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh serta menghancurkan drone di wilayah timur yang kaya minyak.
IRGC juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik di wilayah yang memasok energi ke pangkalan AS, serta menargetkan infrastruktur ekonomi, industri, dan energi milik Amerika. Ancaman ini muncul setelah ultimatum Trump terkait pembukaan Selat Hormuz.
Baca juga: Konflik Memanas, AS Gempur Pulau Kharg dan Siapkan Pengawalan Tanker di Selat Hormuz
Al Jazeera melaporkan bahwa serangan roket juga diluncurkan dari Lebanon oleh Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, dengan target wilayah utara Israel. Pejabat Israel menyebut serangan ini sebagai operasi gabungan Iran dan Hizbullah.
Kekhawatiran atas meluasnya perang hingga menyasar infrastruktur sipil turut mengguncang pasar minyak global. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa situasi di Timur Tengah "sangat parah" dan bahkan lebih buruk dibandingkan dua krisis energi pada 1970-an jika digabungkan.
Sementara itu, seorang warga India di Uni Emirat Arab dilaporkan terluka akibat serpihan rudal yang berhasil dicegat di dekat pangkalan udara Al-Dhafra di Abu Dhabi. Korban jiwa di Iran kini telah melampaui 1.500 orang, sementara di pihak Israel tercatat 15 orang meninggal dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera