INDOZONE.ID - Kuba kembali mengalami pemadaman listrik besar-besaran untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepekan.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (21/3/2026), setelah jaringan listrik nasional kembali mengalami kegagalan akibat infrastruktur yang sudah tua serta dampak blokade minyak dari Amerika Serikat.
Saat malam tiba, sebagian besar wilayah ibu kota Havana tenggelam dalam kegelapan. Warga terpaksa mengandalkan cahaya dari ponsel atau senter untuk beraktivitas.
Kondisi ini terjadi hanya lima hari setelah pemadaman sebelumnya, menambah beban kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di kawasan wisata kota tua, beberapa restoran masih bisa beroperasi berkat bantuan generator.
Musik tetap dimainkan untuk menghibur pengunjung, tetapi pemadaman listrik yang terus berulang membuat situasi semakin sulit bagi warga.
“Ini sudah tidak tertahankan lagi,” ujar Ofelia Oliva (64), seorang warga Havana. Ia mengaku kelelahan dengan kondisi yang terus berulang, bahkan sampai membatalkan rencananya untuk mengunjungi anaknya.
Baca juga: Ratusan Ribu Warga Dievakuasi Saat Badai Melissa Hantam Kuba Timur
Perusahaan listrik milik negara menjelaskan bahwa pemadaman total terjadi akibat kerusakan pada salah satu unit pembangkit listrik tenaga termal.
Gangguan tersebut memicu efek berantai yang menyebabkan seluruh sistem listrik nasional terputus.
Sebagai langkah darurat, pemerintah mengaktifkan jaringan listrik skala kecil (micro-grid) untuk memastikan fasilitas penting seperti rumah sakit dan instalasi pengolahan air tetap berfungsi.
Namun bagi masyarakat umum, kondisi ini semakin memprihatinkan.
“Saya bertanya-tanya apakah kami akan hidup seperti ini terus. Tidak mungkin hidup dalam kondisi seperti ini,” kata Nilo Lopez (36), seorang sopir taksi.
Baca juga: AS Longgarkan Sanksi Minyak Rusia 30 Hari, Kecualikan Kuba dan Korea Utara
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com