INDOZONE.ID - Hubungan AS-Iran lagi memanas. Dalam pertemuan di Gedung Putih pekan ini, Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat buat meningkatkan tekanan maksimum terhadap Iran, dengan satu target utama: memangkas ekspor minyak Iran ke Cina.
Seperti dilaporkan Axios, seorang pejabat senior AS menyebut mereka akan "go full force" soal ini.
Fokus ke minyak ini bukan tanpa alasan. Cina adalah pembeli utama minyak Iran, mencakup lebih dari 80 persen total ekspor minyak Iran.
Kalau AS berhasil memotong jalur ini, pendapatan minyak Iran bakal jeblok drastis.
Baca juga: Gaza Panas Lagi! Israel Serang Balas, 11 Warga Tewas Termasuk di Tenda Pengungsi
Ini adalah bagian dari strategi "maximum pressure" yang pernah dijalankan di masa pemerintahan Trump sebelumnya, dan kini dihidupkan lagi dengan target yang lebih spesifik.
Langkah ini diambil di tengah upaya diplomasi yang juga sedang berlangsung.
Pekan lalu, diplomat AS dan Iran dikabarkan mengadakan pembicaraan soal program nuklir Iran melalui mediator Oman.
Di saat yang sama, AS juga mengerahkan armada laut di kawasan sebagai persiapan jika diperlukan operasi militer berkepanjangan terhadap Iran.
Vibes-nya, AS main two-track: negosiasi jalan, tekanan juga ditingkatkan.
Baca juga: Panglima Suriah Kuasai Pangkalan Shaddadi, Koordinasi dengan AS di Balik Layar
Langkah AS ini jelas mengundang reaksi dari Beijing.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Minggu (15/2/2026), menegaskan bahwa "kerja sama normal antarnegara yang dilakukan dalam kerangka hukum internasional adalah wajar dan sah, serta harus dihormati dan dilindungi."
Pernyataan ini merupakan sinyal halus bahwa Cina tidak akan tinggal diam jika tekanan AS mengganggu pasokan energinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters