Ilustrasi. Iring-iringan kendaraan militer (photo/ANTARA/REUTERS)
INDOZONE.ID - Langkah baru terjadi di peta geopolitik Suriah.
Tentara Suriah resmi mengambil alih kendali Pangkalan Militer Shaddadi di timur laut negara itu setelah melakukan koordinasi dengan Amerika Serikat, demikian dilaporkan kantor berita negara Suriah (SANA), Minggu (15/2/2026).
Pengambilalihan ini terjadi tidak lama setelah AS menarik pasukannya dari Pangkalan al-Tanf, sebuah pangkalan strategis lainnya di Suriah.
Penarikan itu disebut sebagai bagian dari kesepakatan yang dimediasi Washington untuk mengintegrasikan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi ke dalam institusi-institusi pusat Suriah.
Baca juga: Makin Panas! Kanada Ikut-ikutan Ingin 'Regime Change' di Iran, Tambah Sanksi
Dengan kata lain, ini kayak efek domino dari sebuah deal politik dan militer yang lebih besar.
Koordinasi antara Suriah dan AS dalam pengambilalihan Shaddadi ini sinyal yang cukup kuat bahwa ada komunikasi langsung di antara kedua pihak, meskipun selama ini hubungan mereka tegang.
Pangkalan Shaddadi sendiri berada di wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan Kurdi dan koalisi pimpinan AS.
Masuknya tentara Suriah ke basis ini jadi indikator bahwa peta kendali di Suriah timur laut sedang bergeser, seiring dengan pengaturan ulang kekuatan AS dan negosiasi dengan pemerintah pusat Suriah.
Buat lo yang ngikutin perkembangan Timur Tengah, ini adalah perkembangan signifikan.
Baca juga: Kecanduan Seks gegara Obat, Pria Inggris Ini Gelapkan Rp12 M dan Hancurkan Keluarga
Ini bisa jadi pertanda bahwa Washington mulai mengubah strateginya di Suriah, mungkin beralih dari dukungan penuh ke mitra Kurdi menuju pendekatan yang lebih terkoordinasi dengan Damaskus—setidaknya dalam beberapa hal taktis.
Kita lihat aja gimana kelanjutannya, apakah ini awal dari normalisasi yang lebih luas atau hanya manuver sementara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters